Arsip

Archive for Februari, 2011

Kemiskinan dan Pemiskinan

Februari 25, 2011 Tinggalkan komentar

Miskin, menurut Imam Syafi’i dan jumhur ulama, adalah “memiliki sesuatu (penghasilan/pendapatan) tapi tidak mencukupi kebutuhan pokok” banyak ahli ekonomi yang membuat ukuran “cukup” misalnya pemenuhan kalori minimal per hari atau jumlah konsumsi pangan minimal harian. Jika pemenuhan tersebut tak mencukupi, maka dapat dikategorikan “miskin secara faktual”. Kemiskinan faktual ini mewabah pada mayoritas rakyat awam, di antara segelitir elit yang mewah.

“Sesungguhnya orang yang miskin adalah orang yang tak pernah merasa cukup”. Banyak orang yang berpotensi atau berpeluang memperkaya diri, tapi tidak mau melakukannya. Rasulullah dan para khalifah, adalah teladan umatnya. Muhammad SAW, sang pemimpin dunia malah berdo’a pada Allah SWT agar “dimiskinkan”. “Kebanyakan penduduk surga,” kata Rasul adalah kalangan miskin. “Dan beliau bersama mereka (orang miskin) bagaikan dua jari yang saling berdekatan.” “Kalau kemiskinan bersujud bersama seperti manusia, maka akan kubunuh,” kata Sayidina Ali ra, seorang imam dan pemimpin negara yang tetap miskin, tapi benci dengan kemiskinan. Kenapa? Karena hakikat kemiskinan adalah merasa kurang cukup. Khalifah Umar, pemimpin negara penakluk Romawi, hidup dengan roti kering dan pakaian penuh tambalan. Secara faktual beliau miskin, tapi hakikatnya kaya. Toh beliau merasa cukup dan tidak berupaya memperkaya diri dengan kekuasaannya.

Baca selanjutnya…

Bioetika, Sebuah Pencarian

Februari 25, 2011 Tinggalkan komentar

Bermobil meluncur di atas aspal menikmati sosis di restoran, sudah menjadi gaya hidup sebagian orang, misalnya mereka yang disebut eksekutif muda. Tapi bagaimana kalau aspal yang dilewati dan sosis yang dimakannya terbuat dari tinja manusia? Bukan guyonan. Di Jepang, orang pintar telah membuat sosis dari bahan tinja manusia yang diperkaya dengan gizi dan hampir tak ada bedanya dengan sosis daging biasa. Dan di Medan, pernah feces manusia dicoba sebagai campuran aspal jalan. Dengan informasi ini, Anda yang masih memiliki nurani, tentu akan curiga dengan sosis yang anda santap atau aspal yang anda lalui. Tapi sebagian orang dengan bangga justru menerimanya sebagai produk modernitas.

Maka, polemik muncul. Ada pro dan kontra. Muncul kebutuhan etika ilmiah. “Bagaimanapun juga, setiap manusia membutuhkan agama untuk mengatur kehidupannya.” Ucapan filosof Rich Fromm ini mengandung relevansi dengan perdebatan aplikasi iptek tersebut.

Kasus yang lebih merisakan dari contoh di atas, adalah rekayasa genetika. Aplikasi teknologi bayi tabung (fertilisasi in vitro), melahirkan bayi yang dipertanyakan apakah nasabnya ke pemilik rahim, pemilik zygot atau tabung? Dengan kata lain, apakah ia akan dipanggil fulan bin fulan atau Fulan bin Tabung. Atau Fulan bin dokternya atau Fulan bin dokter-dokternya?

Baca selanjutnya…

Pengaruh Agama Pada Jiwa dan Psikologis Manusia

Februari 23, 2011 Tinggalkan komentar

Dewasa ini, pembahasan mengenai agama dan pengaruh-pengaruhnya yang signifikan terhadap berbagai sisi kehidupan, merupakan sebuah topik yang banyak dibicarakan. Meskipun terdapat berbagai gambaran dan deskripsi mengenai agama, kehadiran agama dalam berbagai bidang, seperti politik, sosial, dan kemasyarakatan semakin hari semakin meluas, sehingga agama menjadi pusat perhatian banyak pihak.

Hingga kini, para ahli psikologi dan kejiwaan telah melakukan berbagai usaha di bidang, pengobatan penyakit-penyakit jiwa dan psikologis. Meskipun telah dilakukan berbagai metode medis yang mampu mencegah munculnya berbagai penyakit kejiwaan tersebut. Sebagian penelitian menunjukkan bahwa rata-rata orang-orang yang telah menjalani terapi pengobatan kejiwaan masih belum mencapai tingkat kesembuhan yang memuaskan. Sekelompok peneliti juga berusaha mencari jalan agar berbagai penyimpangan perilaku akibat penyakit kejiwaan tidak meluas dalam masyarakat, namun hingga kini mereka masih belum berhasil menemukan jalan tersebut.

Baca selanjutnya…

Sumber Peradaban Islam

Februari 22, 2011 Tinggalkan komentar

Suatu saat, Rasulullah pernah bersabda, “Apabila umatku sudah mengagungkan dunia maka akan dicabutlah kehebatan Islam, dan apabila mereka meninggalkan aktivitas amar ma’ruf nahyi munkar, maka akan diharamkan keberkahan wahyu, dan apabila umatku saling mencaci, maka jatuhlah mereka dalam pandangan Allah.”

Bisa kita saksikan kondisi umat Islam hari ini, mereka ditinggal induknya seorang diri dengan runtuhnya Khilafah Utsmaniyah dan hilang kekuasaan dua pertiga bumi yang selama berabad-abad ada dalam genggaman. Keadaan tersebut diperparah dengan fenomena kaum Muslimin yang kini saling berseteru. Ditambah lagi, orang kafir dan musuh-musuh Allah bersatu padu memerangi kaum Muslimin sampai ke akar-akarnya.

Jauh-jauh hari, Rasulullah telah memprediksi kondisi umat saat ini yang menurutnya bak buih yang tak berguna, bak macan tak punya taring di hadapan musuh-musuhnya. Umat Islam lupa bila pendahulunya pernah menjadi kekuatan digdaya di dunia.

Prediksi Rasul benar, kehebatan Islam dan keberkahan wahyu dicabut dan murka Allah dtimpakan kepada umat. Akibat pengagungan yang tinggi kepada hl-hal duniawi, Allah mencabut kehebatan Islam.

Baca selanjutnya…

Menikmati Derita

Februari 22, 2011 Tinggalkan komentar

Berhaji denganjalan kaki, lebih baik daripada naik kuda. Berhaji dengan naik naik kuda lebih baik daripada naik mobil. Berhaji dengan mobil lebih baik daripada naik kapal laut. Berhaji dengan kapal laut lebih baik daripada naik pesawat.

Kalimat dalam paragraf pertama di atas adalah kalimat dalam film le Grand Voyage, sebuah film Prancis tentang anak dan bapak yang melakukan perjalanan haji melalui jalur darat. Dari Perancis ayah dan anak ini menyusuri daratan Eropa, tertimbun badai salju di Bulgaria, tersangkut imigrasi di perbatasan Turki, ditipu mentaha-mentah di Istanbul, dan melanjutkan perjalanan haji tanpa uang sama sekali.

Tapi rupanya orangtua yang telah kenyang makan asam garam, telah mempersiapkan semuanya dengan matang. Ia masih menyimpan uang yang sedianya untuk bekal pulang, di dalam sabuk yang ia kenakan. Maka untuk sementara, selamatlah mereka dari gagalnya perjalanan.

Tapi yang menarik adalah jawaban sang ayah ketika ditanya mengapa jalan darat yang dipilih untuk berhaji. “Air laut menjadi tawar setelah turun dari awan.”

Baca selanjutnya…

Islam di Mata Mualaf Ipar Tony Blair

Februari 20, 2011 Tinggalkan komentar

“Apakah menjadi muslimah membuat anda merasa damai?,” tanya seorang gadis cilik kepada Lauren Booth, adik ipar mantan PM Inggris Tony Blair. “It’s very peacefull,” jawab Booth yang sudah setahun menjadi muslimah.

Booth menjawab pertanyaan itu pada seminar “Islam, Fear Or Not To Fear?” yang merupakan bagian dari acara Islam Conference yang digelar Islamic Society Essex University, Colchester, pekan silam.

Perempuan kulit putih itu menjadi pembicara dengan topik “My Journey to Islam”. Seminar itu dihadiri lebih dari 200 peserta termasuk walikota Colchester Sonia Lewis.

Dia mengatakan Muslim ingin semua orang menjadi bahagia. “Menjadi Muslim merupakan suatu kedamaian,” ujar Lauren Booth lalu mengatakan bahwa kini dirinya menjadi lebih tenang.

Baca selanjutnya…

Bila Ingin Menjadi Muslim, Bacalah Injil Hingga Akhir!

Februari 19, 2011 Tinggalkan komentar

Kisah saya bermula pada tahun 1979. Kisah dimana saya dilahirkan dalam sebuah keluarga yang sangat religius. Sebelum memeluk agama Islam, keluarga kami menganut Ortodoks Katolik Roma. Keluarga amat memahami dan secara aktif terlibat dalam urusan gereja. Kami punya pendeta, biarawati dan misionaris sebagai bagian dari keluarga kami. Kakek saya merupakan pendiri gereja di Kerala, India. Keluarga saya berpegang kepada idealisme. Kami mencintai Pencipta kami walaupun telah menyimpang dari jalan benar, dan senantiasa berusaha untuk menjadi insan yang baik. Kami bangga dengan diri kami sebagai orang-orang yang beriman dan yang terbaik di kalangan kami ialah ibu kami. Dalam banyak hal ibu kami dijadikan sebagai model terbaik untuk wanita-wanita lain oleh pendeta kami. Ibu kami adalah model bagi wanita Kristiani. Dia membaca injil secara rutin dan mengamalkan agama ini dengan sungguh-sungguh.

Untuk memulai kisah, ibu saya memiliki beberapa pengalaman spiritual yang menimbulkan rasa tidak puas hati dengan agama kristen. Dia mengalihkan pandangannya kepada Injil untuk mendapatkan jawaban. Sayangnya ia hanya membawanya lebih jauh dari apa yang dianggap mulia baginya. Pada masa tersebut, seorang pengacara bermana Ibrahim Khan bekerja dengan ayah dan ibu saya sebagai penasihat legal, itupun dalam jangka masa yang singkat karena pengacara kami libur, sementara ayah dan ibu saya memerlukan nasihat berhubung masalah bisnis. Sebagai seorang muslim yang berpengetahuan, dia telah memperkenalkan Islam kepada ibu saya dan beberapa pekan setelah itu, ibu saya memeluk agama Islam. Ketika itu usia saya sekitar 13 tahun.

Baca selanjutnya…