Beranda > Al Islam > Menikmati Derita

Menikmati Derita

Berhaji denganjalan kaki, lebih baik daripada naik kuda. Berhaji dengan naik naik kuda lebih baik daripada naik mobil. Berhaji dengan mobil lebih baik daripada naik kapal laut. Berhaji dengan kapal laut lebih baik daripada naik pesawat.

Kalimat dalam paragraf pertama di atas adalah kalimat dalam film le Grand Voyage, sebuah film Prancis tentang anak dan bapak yang melakukan perjalanan haji melalui jalur darat. Dari Perancis ayah dan anak ini menyusuri daratan Eropa, tertimbun badai salju di Bulgaria, tersangkut imigrasi di perbatasan Turki, ditipu mentaha-mentah di Istanbul, dan melanjutkan perjalanan haji tanpa uang sama sekali.

Tapi rupanya orangtua yang telah kenyang makan asam garam, telah mempersiapkan semuanya dengan matang. Ia masih menyimpan uang yang sedianya untuk bekal pulang, di dalam sabuk yang ia kenakan. Maka untuk sementara, selamatlah mereka dari gagalnya perjalanan.

Tapi yang menarik adalah jawaban sang ayah ketika ditanya mengapa jalan darat yang dipilih untuk berhaji. “Air laut menjadi tawar setelah turun dari awan.”

Menikmati segala proses dan peristiwa dalam setiap sudut kehidupan selalu memberikan imbalan yang besar. Kadang imbalannya adalah penyucian diri, seperti air laut yang telah ditawarkan dalam proses menjadi hujan. Kadang imbalannya kematangan, seperti matangnya pencari kebenaran yang melalui ribuan proses kehidupan.

Tapi hari ini, betapa kita sama sekali nyaris tidak peduli dengan segala bentuk proses, apalagi penghayatan. Kita selalu memilih yang lebih ringan, lebih gampang, lebih enak, minim risiko dan kesuksesan instan.

Film le Grand Voyage yang mengajarkan sesuatu yang ternyata telah lama hilang dari diri kita, terutama masyarakat urban, yang sangat benci kesusahan. Lihatlah perilaku kita hari ini, tentang betapa bencinya manusia pada sisi lain dari kehidupan yang bernama kesukaran.

Aspirin dan pain killer diciptakan untuk meredam rasa sakit, pusing dan reaksi syaraf atas ketidaknormalan peristiwa yang dialaminya. Tapi kita menutupi kesakitan itu dengan membuat kebas bagian tubuh yang seharusnya sangat peka. Kita menutupi rasa kecewa dan gundah dengan cara makan, belanja, jalan-jalan dan mencari hiburan. Padahal yang perlu dilakukan adalah mencari tahu, apa yang sesungguhnya melahirkan kegundahan jiwa. Sedikit saja kita terkena flu, berbagai macam obat kita konsumsi untuk menaklukann gejala. Padahal yang seharusnya kita selesaikan adalah daya tahan tubuh yang kian lemah.

Andai saja kita mau bersabar dan menikmati sedikit kesukaran, tentu kita akan menemukan hal lain dari segala yang kita rasakan. Tapi kita terlalu cepat membunuh rasa sakit. Andai saja kita rela dan ikhlas atas kondisi yang berat dan penat, tentu kita akan lebih menuai manfaat. Tapi kita terlalu cepat membunuh rasa sedih. Kita terlalu cepat membunuh perasaan penat. Lambat laun kita menjadi kebas. Lambat laun kita menjadi kebal. Lambat laun kita menjadi imun.

Bukan saja imun pada virus dan bakteri, tapi kita juga imun terhadap perasaan orang lain dan penderitaan sesama. Kita tak mampu lagi merasa sesuatu yang sepatutnya kita rasakan. Itu semua karena kebiasaan kita membunuh perasaan dan rasa tak nyaman yang kita alami.

Konsep Yin dan Yang dalam perspektif budaya Cina, dua-duanya selalu harus beriringan dan setia. Kita wajib mengenal derita, karena dengan begitu lebih mampu memaknai bahagia. Kita harus mengetahui kesempitan agar mampu lebih mensyukuri kelapangan. Dan lebih dari segalanya, agar kita mampu berempati dengan tulus, bersimpati dengan jernih atas kesempitan, kesusahan, penderitaan orang lain.

Setidaknya, dengan begitu kita tak menjadi penyebab penderitaan orang lain. Karena ternyata, kekebalan yang telah menimbun kita hari ini, telah membuat kita tidak sadar bahwa sesungguhnya kita, telah menjadi penyebab kesengsaraan.

Sesekali, cobalah mengurangi kecepatan berjalan, lebih perlahan agar lebih banyak yang kita tangkap dari berbagai peristiwa di sekitar. Kadang-kadang, kurangilah intonasi dan volume suara, agar lebih banyak hal yng bisa kita dengarkan.

 

oleh Herry Nurdi

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: