Membangun Potensi Fitrah Manusia

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang suci, yang tidak mempunyai dosa baik yang kecil apalagi besar. Dan, manusia juga telah melakukan “perjanjian” dengan Tuhan pada sejak di alam ruh. Namun, setelah manusia itu lahir ke duina barulah ia dihadapkan pada persoalan hidup yang tidak jarang menjerumuskannya kepada jalan yang sesat. Atau bisa dikatakan manusia mulai menodai fitrah hakiki (kesuciannya).

Tetapi kita juga tidak bisa mengesampingkan realitas bahwa manusia juga ditakdirkan memiliki akal pikiran yang padanya terdapat beragam potensi intelektif dan insting-selektif. Berarti manusia juga memiliki fitrah kebebasan untuk menentukan arah hidupnya dengan bekal tersebut.

Banyak orang mengira bahwa hidup ini cukup diisi dengan menitikberatkan pada keberhasilan di bidang materi belaka (materialisme). Ada pula yang mengira bahwa hidup harus dipenuhi dengan idealisme-mistik dan membentuk kebudayaan batin saja, suatu model hidup yang cenderung individualistik.

Kehidupan materialistis akan menumbuhkan keingkaran terhadap hal-hal yang bersifaf ghaib. Karena hanya mengakui apa yang tidak bertentangan dengan rasio atau logika akalnya saja. Kaerena itu, akhirnya, banyak manusia yang mengingkari adanya agama yang pada gilirannya mendorong untuk berfaham atheis. Pada faham seperti ini, Tuhan dan agama dipandang sebagai sesuatu yang nonsens, karena ia tidak bisa diteliti dan dibuktikan kebenarannya secara ilmiah dan logika. Dengan demikian teori ketuhanan yang sudah ada selama ini menjadi batal dan tidak realistis lagi jika dihadapkan kepada ilmu pengetahuan modern.

Faham seperti ini sesungguhnya telah menyalahi fitrah manusia, dengan menolak keimanan pada Tuhan.

Adalagi faham yang cenderung lebih mengagungkan idealisme-mistik. Sebuah faham yang membentuk tingkah laku eksentrik (melebihi kewajaran). Hal ini disebabkan oleh penekanan rasa kesadaran yang melampaui batas. Ibarat orang yang ingin menyembuhkan penyakit dengan meminum obat melebihi dosisnya. Yang pada akhirna akan membawa mereka lupa akan tanggung jawabnya pada kehidupan di dunia.

Faham idealisme-mistik lebih menekankan pada pendalaman batin yang akhirnya akan melahirkan pada keyakinan kekuatan magis-mistik. Dipandang dari segi ubudiyah dan hidup bercita ketuhanan, hal semacam itu tidak memiliki nilai apa-apa. Bahkan seringkali hanya melahirkan kesombongan dan sikap takabur saja. Karena sikap hidup seperti ini pada gilirannya bisa membawa pada sikap individualistik yang sangat identik dengan nilai kesombongan.

Sikap hidup seperti yang digambarkan di atas hanya berdimensi satu saja. Padahal manusia diharuskan mengatur pola hidup yang seimbang antara lahir dan batin, dunia dan akhirat. Sebab tanggung jawab manusia meliputi tiga hal; tanggung jawab kepada diri sendiri, kepada masyarakat, dan kepada Allah SWT. Inilah dimensi tanggung jawab hidup manusia yang telah diberi amanat sebagai khalifah di muka bumi.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: