Beranda > Mutiara Hati > MENJADI DERMAWAN

MENJADI DERMAWAN

Nabi Yusuf selain seorang nabi dia juga adalah seorang raja di  Kota Mesir. Ia dikenal sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana. Rakyat yang dipimpinnya saat itu merasa nyaman tentram dibawah kepemimpinannya. Pada suatu hari, ketika nabi Yusuf  as. sedang melaksanakan puasa, ada seorang sahabat yang datang kepadanya dan menanyakan tentang puasa yang dilakukannya. Sahabat itu bertanya, kenapa engkau berpuasa dan mau merasakan lapar, padahal seluruh harta kekayaan negara ini tertletak di bawah kekuasaanmu wahai Raja Yusuf. Nabi Yusuf menjawab “Aku takut kekenyangan saat aku meninggalkan orang lain dalam kelaparan”.

Pada kisah yang lain diceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah didatangi seorang sahabat untuk meminta surban yang dimilikinya. Rasulullah Saw. Kemudian mengajaknya menuju padang rumput yang penuh dengan kambing ternak miliknya. Jumlah kambing tersebut sangat banyak. Dengan penuh rasa kasih dan sayang beliau mengatakan kepada sahabat tersebut, “Semua kambing yang aku miliki menjadi milikmu”

Dua kisah diatas mengisyaratkan kepada kita betapa mulia perilaku dan perangai para nabi-nabi Allah Swt. Mereka layak dijadika sebagai figur dalam kehidupan ini. Puasa yang dijalani semata-semata bukan hanya untuk taqarrub (usaha pendekatan diri) kepada Allah saja akan tetapi juga untuk belajar menumbuhkan rasa empati terhadap orang yang merasakan penderitaan sebagai tanda solidaritas antar sesama. lapar dan dahaga yang kita lakukan selama satu bulan penuh belum sebanding dengan apa yang dirasakan saudara-saudara kita yang jauh lebih menderita dalam hidupnya.

Bulan Puasa yang kita rasakan saat ini mestinya dijadikan sebagai momentum untuk mengasah hati, menumbuhkan rasa empati, dan kemudian mau untuk berbagi, Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, hal itu bisa dilihat dalam salah satu hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim “Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi ketika dibulan  Ramadhan”. Bahkan lebih dari itu, beliau dengan tulus ikhlas memberikan apa yang paling dicintai sekalipun kepada orang yang membutuhkannya, meskipun beliau sendiri tidak merasakannya.

Contoh yang dilakukan Rasulullah itu senada dengan firman Allah dalam (QS. Al-Imran: 96) “sekali-kali kalian tidak akan mendapatkan kebaikan sebelum kalian menafkahkan apa yang yang kalian cintai, dan apapun  yang kalian nafkahkan dari sesuatu itu, sesungguhnya Allah mengetahunyai”.

Semoga ramadhan kali ini dapat menggugah kita untuk selalu mau menoleh dan menyisihkan apa-apa yang kita miliki untuk orang yang membutuhkannya, karena sebaik-sebaik harta yang kita miliki adalah yang kita berikan untuk orang lain. Wallahu a’lam.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: