Beranda > Al Islam > Bagaimana Kita Bersyukur

Bagaimana Kita Bersyukur

Syukur. Kata itu begitu mudah diucapkan, namun sulit direalisasikan. Sebagai bukti, Allah Ta’ala telah memberiktakan bahwa hanya sedikit hamba-Nya yang mau bersyukur.

Firman Allah:

“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur”. (QS. Saba:13)

Iblis pun pernah bersumpah dihadapan Allah untuk menyesatkan manusia, agar mereka tak mau bersyukur:

“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus; kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati mereka bersyukur”. (QS. Al-A’raf: 16-17)

Hal ini mengingatkan kepada kita, bahwa syukur memang pekerjaan yang sulit. Amat banyak kendala yang membuat sebagian besar manusia mengkufuri nikmat-nikmat Allah.

Untuk bisa bersyukur ada tiga hal yang seharusnya dipenuhi terlebih dahulu.

Ma’rifatun Ni’mah

Syukur tak bisa terlaksana dengan baik, manakala tidak diketahui nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita, baik macam, jumlah maupun intensitasnya. Bagaimana mau bersyukur, jika tidak mengetahui apa yang harus disyukuri.

Mengetahui nikmat apa saja yang telah kita terima tentu amatlah sulit, sebab pada kenyataannya nikmat yang tidak kita ketahui macamnya lebih banyak ketimbang yang kita ketahui. Perlu disadari, mengetahui suatu nikmat Allah itu pun termasuk nikmat yang harus disyukuri. Sebab betapa banyak orang yang tak mengetahui bahwa sesuatu tersebut merupakan nikmat dari Allah.

Bahkan, bisa bersyukur atas suatu nikmat itupun termasuk nikmat yang harus disyukuri lagi. Betapa banyak orang yang telah mengetahui nikmat Allah, namun tak juga mau bersyukur.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 13)

 

Ma’rifatu Shahib an-Ni’mah

Untuk bisa bersyukur, perlu diketahui siapa pemilik dan pemberi nikmat tersebut. Bagaimana bisa bersyukur, jika tidak mengetahui sang pemberi nikmat? Dalam banyak ayatNya, Allah telah bertanya retoris tentang nikmat-nikmat yang telah Ia berikan kepada manusia.

“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya?” (al-Waqiah: 63-64)

Manusia menanam berbagai macam tumbuh-tumbuhan, lalu ada yang hidup ada pula yang mati. Adakah ia sendiri yang kuasa menghidupkan biji yang ditanam ataukah Allah?

“Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkannya?” (al-Waqiah: 68-69)

Air yang setiap saat digunakan manusia dari penguapan air laut, menggumpal menjadi awan,lalu turun kembali ke bumi sebagai hujan yang meresap ke dalam tanah. Siapakah yang menjaga siklus itu hingga air tetap bisa dimanfaatkan manusia sepanjang masa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jawabnya telah jelas. Hanya Allah yang Maha Memberikan nikmat kepada segala makhluk-Nya. Apalagi ketika disambung dengan penegasan:

“Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan air itu asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (al-Waqiah: 70)

Jika semua air menjadi asin, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menjadikannya tawar? Manusia lupa bersyukur pada saat air yang diminumnya begitu bening dan segar, atas kehendak Allah SWT.

 

Ma’rifatu Huquq an-Nikmah

Untuk bisa bersyukur perlu diketahui pula hak-hak nikmat. Yang dimaksud dengan hak nikmat, yang pertama adalah mengingat nikmat tersebut. Allah Ta’ala telah berfirman:

“Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya” (QS. Ad-Dhuha: 11)

Setelah ingat, hak nikmat berikutnya adalah memanfaatkanya untuk menaati Allah. Inilah bentuk syukur yang paling tinggi. Segala nikmat yang kita terima harus teralokasikan secara benar-benar sesuai tuntutan-Nya.

Seluruh pemberian Allah itu akan dimintai pertanggungjawaban penggunaannya, kelak di hari akhir. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS. Al-Israa: 36)

Harta kekayaan, status sosial, jabatan, semuanya nikmat Allah. Jika menggunakan hal-hal tersebut untuk tujuan memuaskan nafsu semata, berarti telah mengkufuri nikmat Allah.

 

Akibat Ingkar Nikmat

Allah telah berjanji, akan menambah nikmat yang diberikan kepada hamba yang mau bersyukur, sekaligus mengancam dengan azab yang pedih bagi yang ingkar. Allah Ta’ala telah berfirman:

“Dan (ingatlah) ketia Rabbmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)

Tentu hal ini merupakan kabar gembira sekaligus ancaman. Bagi kita yang pandai beryukur, ada kabar baik dari Allah tentang tambahan nikmatNya. Sedang bagi yang tak mau bersyukur, diancam dengan azab.

Akibat dari kufur nikmat memang amat mengerikan. Allah SWT telah membuatkan satu perumpamaan dalam al-Qur’an tentang sebuah negeri yang mengkufuri nikmat Allah. Negeri yang semula stabil tersebut akhirnya ditimpa berbagai goncangan stabilitas, akibat pengingkaran mereka.

“… dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulu aman lagi tentram, rezekinya datang melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat… “ (QS. An-Nahl: 112)

Rasulullah saw yang telah dijamin masuk syurga, adalah hamba yang pandai bersyukur. Beliau minya ampun kepada Allah lebih dari tujuhpuluh kali sehari. Beliau juga gemar shalat malam hingga bengkak kedua kakinya.

“Mengapa anda berbuat demikian”, tanya Aisah suatu ketika. “Padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang lalu maupun yang akan datang?”

Nabi menjawab, “Tidakkah selayaknya aku menjadi hamba yang bersyukur?”.

Mudah-mudahan kita menjadi hamba yang sadar akan nikmat-nikmat Allah dan pandai mensyukurinya. Amin.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: