Beranda > Mutiara Hati > BUDAYA MALU

BUDAYA MALU

Rasulullah bersabda: Sesungguhnya diantara yang diketahui manusia dari perkataan kenabian yang pertama adalah jika engkau tidak malu, berbuatlah apa yang kau mau.” (HR, Bukhari, Abu Daud, dan Ahmad).

M. Usman Najati mengartikan malu sebagai “perasaan yang dirasakan manusia, karena takut untuk  melakukan perbuatan tercela atau tidak diterima oleh agama dan akhlaq, dari difinisi diatas maka malu merupakan sifat terpuji yang dapat mencegah seseorang dari kesalahan atau melakukan perbuatan keji dan berbuat maksiat.

Rasulullah saw sangat memuji sifat malu dan menjadikannya sebagai sifat yang harus selalu menghiasi setiap pribadi mukmin. Ibnu Umar r.a. menceritakan bahwa “Suatu hari Rasulullah saw melewati seseorang yang sedang mencaci dan mencela saudaranya karena sifatnya yang pemalu. Ia berkata “sesungguhnya engkau sangat pemalu sampai-sampai rasa malu yang kau miliki bisa membahayakanmu” maka Rasulullah saw. Bersabda “biarkan ia karena sesungguhnya malu itu sebagian dari   iman dan malu itu tidak akan mendatangkan apa-apa kecuali kebaikan.” (HR. Syaikhani, Abu Daud, dan Tirmidzi).

Malu yang dimksudkan dalam agama adalah kemampuan seorang untuk mengendalikan diri dari perbuatan maksiat dan dosa tanpa harus ragu dan takut untuk melakukan kebaikan dan kemuliaan yang didasari oleh nilai-nilai agama dan moral.

Ada beberapa kriteria malu yang diterangkan Rasulullah dalam hadisnya yang tertuang dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud, “Malu terhadap Allah yang sebenarnya adalah engkau menjaga  kepala dan segala yang dipikirkan, perut dan isinya dan hendaklah kau ingat mati serta musibah, barang siapa yang menginginkan akhirat maka hendaknya meninggalkan perhiasan dunia. Barang siapa berbuat demikian berarti ia telah malu kepada Allah dengan sebenarnya” (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan Hakim).

Hadis Rasulullah di atas mengandung pelajaran bahwa malu terhadap Allah adalah selalu berusaha untuk menjaga pikiran kita dari berfikir yang tidak dibenarkan agama, menjaga pandangan, pendengaran, dan perkataan, menjaga perut dari makanan yang haram dan tidak membiarkan diri dan keluarga tumbuh dengan harta yang haram, selalu berusaha untuk mengingat mati dan menjadikan segala musibah yang menimpa kita atau orang lain sebagai ‘ibrah yang berharga, meninggalkan keterkungkungan diri dari dunia yang hina, beramal sebesar-besarnya demi kehidupan akhirat yang kekal.

Fenomena berfikir opurtunis untuk mencari keuntungan dan popularitas, korupsi, budaya sogok (risywah), dan semakin semaraknya tayangan-tayangan media  yang tidak mendidik merupakan isyarat bahwa budaya malu kepada Allah telah hilang dan terkubur dalam-dalam oleh kerakusan-kerasukan duniawi segelintir orang, Sebuah kata bijak diungkapkan oleh seorang syair terkemuka yang patut untuk kita renungkan, ia menggambarkan rasa malu pada diri seorang bagaikan pohon yang tidak memiliki akar, diantara bait syairnya ia mengatakan “demi Allah tidak ada kebaikan dalam kehidupan tanpa ada rasa malu, dan tidak ada dunia bila rasa malu telah sirna”, Semoga kita termasuk hamba Allah yang selalu berusaha untuk malu kepadanya kapan dan dimanapun. Wallah a’lam.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: