MALU

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap agama memiliki watak masing-masing dan watak Islam adalah sifat malu” (HR. Ibnu Majah)

Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, dengan karakternya yang universal telah megisyaratkan kepada kita bahwa misi Islam itu bukan hanya mengandung misi ketuhanan saja melainkan juga misi sosial, untuk meraih kedua misi mulia tersebut Islam mengajarkan kepada umatnya untuk berusaha menanamkan sifat malu pada diri setiap individu.

Sifat malu memiliki kedudukan penting dalam Islam, bahkan sifat malu tersebut dikatagorikan sebagai akhlak paling terpuji, karena sifat dan sikap mulia yang lain seperti jujur, amanah, simpati kepada sesama,dan lain sebagainya akan lahir dan tercermin darinya, selain itu sifat malu merupakan salah satu factor meningkatnya kualitas keimanan yang ada dalam diri seorang muslim, keimanan tersebut selalu bertambah seiring dengan kekuatan sifat malu yang tumbuh dalam diri seorang muslim.

Rasulullah Saw, bersabda “sifat malu dan keimanan selalu berjalan beriringan, apabila hilang satu dari keduanya maka akan hilang pula yang lainnya” (HR. Hakim)

Dalam hadis yang lain “sifat malu tidak akan memberikan dampak apapun selain kebaikan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sifat malu memiliki dua tingkatan, pertama, tingkatan rasa malu yang tertinggi adalah rasa malu kepada Allah, seorang yang memiliki rasa malu kepada Allah akan mampu mengendalikan dirinya, dengan sifat itu seseorang tidak akan melakukan perbuatan buruk dan tercela yang dapat menimbulkan murka Allah, sifat malu melahirkan seseorang yang tidak rela melihat dirinya tercela dihadapan Allah, dihadapan manusia, dan bahkan dihadapan dirinya sendiri. Sifat malu akan memotofasi seseorang untuk selalu berusaha menjadi mulia dihadapan Allah, kehadiran Allah bersamanya akan memberikan dorongan spiritual untuk selalu memperbaiki diri dan selalu meningkatkan kualitas ibadah kedaNYa.

Tingkatan kedua adalah: malu kepada sesama, malu yang dimaksud adalah malu yang positif, sifat malu akan dapat mencegah seseorang yang beriman untuk tidak mengucapkan kata-kata tercela dan menyakiti orang lain seperti, mencaci, mencela, dan berdusta, tidak rela menghianati kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Tidak dapat dipungkiri lagi, saat ini sifat mulia itu sudah mulai terkikis jika tidak mau dikatakan telah lenyap, malu adalah akhlak yang dapat mempengaruhi individu, keluarga, dan masyarakat, semakin besar rasa malu yang dimiliki setiap orang maka semakin baik pula tatanan kehidupan kita baik keluarga maupun masyarakat, dan orang yang paling sempurna kehidupannya adalah orang yang paling sempurna rasa malunya. Wallahu a’lam.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: