Beranda > Al Islam, Peristiwa > Kemiskinan dan Pemiskinan

Kemiskinan dan Pemiskinan

Miskin, menurut Imam Syafi’i dan jumhur ulama, adalah “memiliki sesuatu (penghasilan/pendapatan) tapi tidak mencukupi kebutuhan pokok” banyak ahli ekonomi yang membuat ukuran “cukup” misalnya pemenuhan kalori minimal per hari atau jumlah konsumsi pangan minimal harian. Jika pemenuhan tersebut tak mencukupi, maka dapat dikategorikan “miskin secara faktual”. Kemiskinan faktual ini mewabah pada mayoritas rakyat awam, di antara segelitir elit yang mewah.

“Sesungguhnya orang yang miskin adalah orang yang tak pernah merasa cukup”. Banyak orang yang berpotensi atau berpeluang memperkaya diri, tapi tidak mau melakukannya. Rasulullah dan para khalifah, adalah teladan umatnya. Muhammad SAW, sang pemimpin dunia malah berdo’a pada Allah SWT agar “dimiskinkan”. “Kebanyakan penduduk surga,” kata Rasul adalah kalangan miskin. “Dan beliau bersama mereka (orang miskin) bagaikan dua jari yang saling berdekatan.” “Kalau kemiskinan bersujud bersama seperti manusia, maka akan kubunuh,” kata Sayidina Ali ra, seorang imam dan pemimpin negara yang tetap miskin, tapi benci dengan kemiskinan. Kenapa? Karena hakikat kemiskinan adalah merasa kurang cukup. Khalifah Umar, pemimpin negara penakluk Romawi, hidup dengan roti kering dan pakaian penuh tambalan. Secara faktual beliau miskin, tapi hakikatnya kaya. Toh beliau merasa cukup dan tidak berupaya memperkaya diri dengan kekuasaannya.

Sebaliknya, para penguasa korup dan konglomerat pada hakikatnya miskin. Sebab, nafsu serakahnya selalu merasa kekurangan. Tak puas dengan mengisap bumi, air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya, mereka pun mengisap darah, keringat dan air mata manusia. Semen disembunyikan, hutan dilalap, cengkeh dibakar, bahkan Masjid pun digusur. “Akan datang suatu jaman dimana orang tak peduli apakah harta yang diperolehnya halal atau haram.” (HR Bukhari).

Perlu diketahui, Allah sengaja melipat gandakan aset para aktor kapitalis yang berprinsip “al ghoyah tubarritul washilah” (tujuan menghalalkan segala cara). Tapi ingat, barang siapa mengumpulkan harta dengan cara tidak benar, Allah akan memusnahkannya dengan banjir dan tanah longsor (HR Al Baihaqi). Oleh karena itu, jangan kagum terhadap orang yang memperoleh harta secara haram. Sesungguhnya bila dia bersedekah atau menafkahkannya, itu tidak diterima Allah, dan bila disimpan tidak berkah. Bila tersisa pun, hartanya akan jadi bekalnya di neraka. (HR Abu Dawud).

 

Alamiah dan Struktural

Secara sunatullah kemiskinan telah muncul dalam kehidupan. Allah meninggikan rizki sebagian manusia atas sebagian lain. Secara faktual, AM Saefuddin membagi kemiskinan sebagai kemiskinan alamiah (natural poverty) dan kemiskinan struktural (structure poverty). Yang pertama terjadi karena, misalnya, cacat mental atau fisik, lahir dari dan dalam keadaan keluarga miskin dan faktor lain yang tak terduga (bencana alam, kebangkrutan, dll).

Namun. kemiskinan struktural  diciptakan oleh sistem, nilai dan perilaku bejat manusia. Sistem sosialis dan kapitalis dengan asas manfaat bebas nilai, membidani kelahiran para elit politik dan konglomerat yang menghalalkan segala cara, bergelimang kemewahan di atas penderitaan mayoritas besar umat manusia.

 

Kesenjangan Di Sosialis, Kapitalis dan Dunia Ketiga

Senjang sosial (kaya-miskin) dinegara-negara sosialis-komunis (pada masa Sovyet dan Eropa Timur). Ternyata lebih kecil dibandingkan dengan negara-negara kapitalis (Barat). Menurut Lenski (1966), pada tahun 50-an perbedaan ekstrim gaji maksimum-minimum di Rusia, sekitar 15-20 kali. Di Amerika Serikat mencapai 20-200 kali. Pada tahun 1980-an, top income Rusia sebesar 80.000 rubel atau sekitar 300 kali lipat gaji minimumnya. Di AS mencapai 11.000 kali lipat. Sebagai contoh, kita bisa membayangkan gap pendapatan antara seorang pemain sepakbola profesional dengan upah rata-rata pekerja. Sangat tidak berimbang. Modal pemain sepakbola cuma bakat yang diberi Tuhan dan bermain beberapa kali dalam sebulan, sementara para buruh dan pekerja tambang mempertaruhkan keringat, air mata dan nyawa.

Bisa dilihat, sistem sosialis dan kapitalis begitu jahat menciptakan kemiskinan struktural dan kesenjangan sosial yang lebar. Tapi di dunia ketiga, yang menganut kedua sistem itu atau campurannya, jauh lebih dahsyat jahatnya. Konglomerat di Indonesia juga pendapatannya sangat “jomplang” bila dibandingkan dengan gaji para satpam penjaga perusahaannya. Tentu dalam sehari para konglomerat mampu meraup uang sejumlah puluhan ribu kali lipat dari gaji satpam mereka.

Menurut seorang penulis Jepang dan Arief Budiman, banyak konglomerat Indonesia yang merpakan aktor Erzats Capitalism (kapitalis semu). Yakn para kapitalis yang dibesarkan oleh kekuasaan. Misalnya, setidaknya pada era Orde Baru ada 8 hak “istimewa” di bidang pajak khusus untuk para konglomerat. Diantaranya kepada 20 pembayar pajak terbesar, Menkeu (Orde Baru) membebaskan bisnis mereka dari investigasi Dirjen Pajak (Tempo, 15-1-1994). Tidak aneh kalau dalam sistem kolusi (persekongkolan) pengusaha-pengusaha, akhirnya pihak I menguasai pihak II. Dr. Kuntowijoyo mencontohkan, betapa para konglomerat mulai berani membandel terhadap imbauan Presiden (Soeharto kala itu) di Tapos, untuk membagi saham dengan koperasi.

 

Reaksi

Para penganut konsevatisme berpendapat, kemiskinan lestari karena sifat-sifat si miskin sendiri yang malas, tidak produktif, tidak berjiwa enterpreneur dan anti prestasi. Oscar Lewis (1965) menyebutkan sebagai culture of poverty (budaya kemiskinan). Pendeknya, orang miskin karena memang maunya begitu!

Menurut paham liberal, manusia sesungguhnya tidak ada yang miskin. Hanya saja, mereka dipengaruhi lingkungan berbeda, hingga ada yang harus miskin (Valentine, 1996).

Tapi bagi aliran radikalisme, biang kerok kemiskinan adalah struktur politik ekonomi dan sosial. “Mereka itu sebenarnya bukan orang miskin, tapi dibuat miskin oleh suatu struktur,” kata Mangunwijaya. Pembangunan di negara-negara berkembang, kata Rudolf Strahm (1980), hanyalah pembangunan keterbelakangan dan pengembangan kemiskinan.

 

Islam VS Kemiskinan

Permusnahan kemiskinan secara total, nonsens. Islam meyakinkan bahwa Allah memang memiskinkan sebagian hambanya sebagai cobaan, baik bagi dirinya maupun bagi si kaya Artinya, meskipun mengakui eksistensi kemiskinan, Islam berupaya memberantas dan tidak melestarikannya. Upaya di tangan manusia, tapi Tuhan yang berkuasa menentukan. Bagaimana kiat Islam?

Islam memiliki sistem (struktur politik ekonomi, sosial, dll) yang khas, yang mencegah terjadinya pemiskinan massal oleh segelintir elite. Misalnya, Isam menghalalkan bisnis (jual-beli) tapi mengharamkan riba (rente) yang menghalalkan segala cara. Perekonomian yang sehat, menurut Lord Keynsian, terjadi pada saat zero-interest (bunga uang nol).

Ajaran Islam ini didukung oleh kekuasaan negara, kontrol sosial dan politik serta kesadaran individu. Setiap individu muslim sadar bahwa kerja adalah jalan terhormat untuk mencari penghidupan. Pada saat yang sama, negara wajib menyediaka lapangan kerja bagi pengangguran. Untuk individu yang terpaksa tidak mampu bekerja (menghidupi diri), negara berhak memaksa sanak familinya untuk menyantuninya. Tapi kalau mereka pun tak mampu, negaralah yang mengambil alih kewajiban itu.

“Tidak ada seorang muslim pun kecuali aku bertanggung jawab atasnya di dunia dan akhirat,” demikian janji Rasul sebagai pemimpin negara. Maka, “Siapa saja yang nanti meninggalkan hutang atau ahli waris yang lemah, datanglah padaku, sebab akulah penanggung jawabnya.”

Komunisme masuk kubur. Dan kapitalisme memang akan runtuh sebagaimana telah diprediksi oleh Presiden Iran Ahmadinejad. Kapitalis akan runtuh jika ada pukulan keras dari luar dan alternatif terpercaya yang siap menggantikan, demikian ungkap Fernand Brendel. Isla, insya Allah, akan membuktikan kembali keagungan di bawah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ini bukan sebuah romantisme, tapi sebuah keyakinan!.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: