Beranda > Al Islam > Bioetika, Sebuah Pencarian

Bioetika, Sebuah Pencarian

Bermobil meluncur di atas aspal menikmati sosis di restoran, sudah menjadi gaya hidup sebagian orang, misalnya mereka yang disebut eksekutif muda. Tapi bagaimana kalau aspal yang dilewati dan sosis yang dimakannya terbuat dari tinja manusia? Bukan guyonan. Di Jepang, orang pintar telah membuat sosis dari bahan tinja manusia yang diperkaya dengan gizi dan hampir tak ada bedanya dengan sosis daging biasa. Dan di Medan, pernah feces manusia dicoba sebagai campuran aspal jalan. Dengan informasi ini, Anda yang masih memiliki nurani, tentu akan curiga dengan sosis yang anda santap atau aspal yang anda lalui. Tapi sebagian orang dengan bangga justru menerimanya sebagai produk modernitas.

Maka, polemik muncul. Ada pro dan kontra. Muncul kebutuhan etika ilmiah. “Bagaimanapun juga, setiap manusia membutuhkan agama untuk mengatur kehidupannya.” Ucapan filosof Rich Fromm ini mengandung relevansi dengan perdebatan aplikasi iptek tersebut.

Kasus yang lebih merisakan dari contoh di atas, adalah rekayasa genetika. Aplikasi teknologi bayi tabung (fertilisasi in vitro), melahirkan bayi yang dipertanyakan apakah nasabnya ke pemilik rahim, pemilik zygot atau tabung? Dengan kata lain, apakah ia akan dipanggil fulan bin fulan atau Fulan bin Tabung. Atau Fulan bin dokternya atau Fulan bin dokter-dokternya?

Demikian juga dengan bayi yang sperma zygotnya diambil dari bank (inseminasi artifisial dengan sperma donor). Dengan teknik kloning, janin bisa dibelah menjadi pasangan-pasangan yang dapat diawetkan dan dicangkok ke rahim wanita. Katakanlah sperma itu milik mendiang Einstein—dengan harapan perbaikan keturunan. Apakah bayi yang lahir akan diapnggil Fulanah binti Fulan—si pengandung, atau Fulanah binti Einstein, atau Fulanah binti Bank Sperma? Okelah misalnya sperma donor dari suaminya sendiri, tapi bagaimana kalau diinjeksikan sesudah suaminya meninggal?

Padahal, kekacauan nasab (akibat zina) merupakan penyakit sosial yang sangat berbahaya. Sebaab pertalian nasab menentukan status perwalia, warisan, pernikahan. “Anak haram”, yaitu anak yang lahir dari proses yang tidak sah, tidak bisa memperoleh warisan dan hak perwalian pada orang tuanya. Seorang bayi “instan” (yakni yang janinnya terbentuk sebelum perkawinan), sebenarnya bukan anak pasangan pengantin baru itu. Secara demikian, sang bayi tak berhak memperoleh warisan karena pada hakikatnya tidak punya orang tua. Demikian halnya dengan bayi-bayi produk rekayasa genetika yang tidak jelas pernasabannya.

 

Ideologi Ilmu Pengetahuan

Pada zaman kegelapan Eropa, kebenaran ilmu pengetahuan (olmiah) dimonopoli oleh ketakhayulan (superstisi) gereja. Kesimpulan-kesimpulan ilmiah divonis oleh ketokan palu para pendeta, dengan tanpa dukungan argumen ilmiah sama sekali. Dan yang berani menentang keputusan gereja dihukum mati. Temuan-temuan ilmiah Copernicus, Galileo, Bruno, misalnya, justru mengantarkan para ilmuwan tersebut ke altar pembantaian, karena bertentangan dengan pendapat gereja.

Kondisi penindasan ilmiah demikian itu, yang berlangsung berabad-abad telah mengumpulkan akumulasi dendam di kalangan intelektual dan imuwan Eropa. Maka dengan meletusnya  revolusi Eropa yang membangkrutkan kekuasaan gereja dan feodalisme, para ilmuwan Eropa membalikkan harkat ilmu pengetahuan dari lembah jurang ketertindasan ke altar sesembahan. Penuhanan ilmu pengetahuan dijustifikasi oleh filsafat positivisme August Comte. Menurut Comte, kehidupan manusia (sebagai pribadi, masyarakat maupun negara) berturut-turut melewati masa teologi metafisik dan positivisme. Pada akhirnya, katanya, agama kehabisan minyak dan tumbang, digantikan dengan cahaya ilmu pengetahuan. Inilah yang mengilhami kelahiran ideologi ilmu pengetahuan.

Akan tetapi, karena iptek dimanfaatkan dalam kerangka pembangunan model Barat, dengan gaya sekuler, maka pengamalan iptek berbanding lurus dengan kehancuran lingkungan, ekonomi dan umat manusia. Rekayasa genetika manusia bayi tabung, sosis tinja, bom nuklir adalah sedikit contoh dampak penuhanan iptek di satu sisi dan penafian agama di sisi lain. “…memanfaatkan kemudahpercayaan orang mengeksploitir ketidakmengertiannya dan menekankan kebodohannya secara moral adalah tercela, mungkin inilah yang terjadi… Saya sepenuhnya tidak tahu,” kata Nicholas Samstag. Semua perkembangan iptek itu akhirnya, kata Emil Dofivat, merupakan penghancur kebinasaan kemerdekaan ruhaniah.

Kenyataan tersebut yang merupakan anti-tesis ekstrim dalam perlakuan iptek, menimbulkan reaksi yang ekstrim, berupa sikap anti-iptek. Everett Mandelson, biolog Harvard, berkata, “Sains, sebagaimana yang kita ketahui, telah melewati masa gunanya.” Suatu reaksi yang berlebihan dan konyol.

Compatible

Kembali pada pertanyaan tadi, Fromm melanjutkan; “Masalahnya bukanlah manusia butuh atau tidak butuh agama, melainkan agama apa yang dipraktekkannya?” (Erich Fromm: Psychoanalis and Religion).

Ya, agama apa yang kompatibel, yang cocok dan mampu mengawal kemajuan zaman? Tentu bukan agama yang hanya mengajarkan ritus-ritus ibadah, yang hanya tidak menyembuhkan kelaparan intelektual. Bukan pula agama yang menganggap pergulatan dunia sebagai hal yang kotor total—dan karena itu harus dijauhi. Bukan itu.

 

Selektivitas Islam

“Menuntut ilmu wajib bagi seluruh muslimin dan muslimat.” Islam memberi pedoman aksilogis kepada umatnya antara lain dalam soal ilmu. Islam menghargai ilmu dan ilmuwan, mendorong untuk mengkaji (misanya QS. 3 : 190-191), memerintahkan untuk tidak mengikuti selain dengan ilmu (QS. 17:36), bertanya kepada ahli ilmu dan menyatakan bahwa hikmah (pengetahuan) adalah milik kaum muslimin dari manapun datangnya, dan sebagainya. Dan pada hakikatnya, semua ciptaan Allah adalah obyek keilmuan untuk ma’rifat kepadaNya.

Dalam kaitannya dengan transformasi iptek Barat—yang karena posisi subordinatif kaum muslimin hal itu menjadi tak terelakan—perlu dipahami tentang ilmu dunia (ulumud-dunya) dan ilmu akhirat (ulumul-akhirat). Ilmu dunia dimaksudkan sebagai ilmu-ilmu yang diperoleh dengan jembatan ilmiah, yakin kesimpulan-kesimpulan obyektif menurut standar keilmiahan, atas alam ini. Seperti dikatakan Dr. Jujun S. Sumantri (1990), daya jelajah ilmu (dunia) ini sebatas daerah “pengalaman” manusia, yakni wilayah inderawi. Adapun ilmu akhirat adalah ilmu yang mengajarkan persepsi asasi tentang kehidupan (aqidah) dan hukum-hukum (baik-buruk atau benar-salah) atas materi dan perbuatan manusia.

Dalam soal kedua, jelad bagi setiap muslim bahwa secara personal (‘ain) wajib mempelajarinya. Secara kualitatif, kapasitas penguasaan kelimuan Islam ini dikategorikan dengan predikat mujtahid (mutlak atau mazhab, dan masalah) dan muqollid (muttabi’ dan ‘aam).

Dalam soal pertama, Rasulullah SAW tidak mengharamkan transformasi iptek dari manapun—termasuk dalam hal ini Barat. Beliau bersabda:

Ilmu adalah milik mukmin yang sedang dicari, dan bila menemukan segera diambil” (Al-Ajluni, “Kasyful Khifaa” I/362).

Tuntutlah ilmu meskipun ke negeri China”

Dalam riwayat tentang teknologi penyerbukan buatan (anthropogamy) pohon kurma, Rasul berkomentar, “Antum a’lamu bi umuri dunyakum” (HR. Muslim). Seperti dikisahkan At-Thabari dalam Tarikhul Ummam wal Muluk III/132. Rasulullah juga pernah mengutus ‘Urwah bin Mas’ud dan Ghailan Ibnu Maslamah untuk mempelajari pembuatan “tank” (dabbah)—terbuat dari rangka kayu dan dinding kulit—ke negeri Yaman (waktu itu belum masuk wilayah Islam).

Jadi, pada prinsipnya Islam tidak melarang kaum muslimin mengimpor dan mengadopsi iptek Barat, selama itu sebatas pada hal ilmiah (ilmu-ilmu murni dan terapannya) selama dalam prakteknya tidak bertentangan dengan Islam. Termasuk produk-produk teknologi Barat yang steril dari nilai ke-Barat-an (madaiyah ’aam), seperti loud speaker, komputer dan robot.

Namun, karena pada saat ini kaum muslimin hidup dalam negeri-negeri Islam yang tergantung pada Barat, maka semua unsur Barat menyerbu tanpa terbendung lagi. Hal ini menjadikan kaum muslimin terkungkung dalam atmosfir Barat. Salah satunya adalah aplikasi teknologi yang mengancam sendi-sendi kehidupan manusia, seperti bom nuklir dan rekayasa genetika menyimpang.

Mengulang pernyataan strukturalis John Galtung, apakah dengan demikian pembangunan memang bertujuan membaratkan diri?

 

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: