Beranda > Peristiwa > Siapa dan Apa Motivasi Bom Bunuh Diri di Cirebon?

Siapa dan Apa Motivasi Bom Bunuh Diri di Cirebon?

Di tengah-tengah menyurutnya perang melawan terorisme yang selama digalang oleh AS dan Sekutunya, dan bersamaan dengan perubahan politik yang luas di dunia Arab dan Afrika Utara, menuju ke arah sistem demokrasi dari rezim-rezim otokratis, di Indonesia justru berjalan menuju ke arah yang semakin meningkatnya kecenderungan kembali ke arah otoritarianisme.

Tidak pernah bisa dipahami, bagaimana seseorang meledakkan dirinya di sebuah masjid di kompleks kepolisian kota Cirebon, yang kemudian menimbulkan efek pemberitaan dan opoini yang sangat luas melalui jaringan media.

Bom bunuh diri di Mapolres Cirebon itu, efek damage  (kerusakan) tidak terlalu hebat, karena jenis bom yang digunakan adalah low explosif, dan hanya menimbulkan luka-luka. Tetapi, efek damagenya berupa opini, khususnya terhadap umat Islam luar biasa. Karena, setiap terjadi aksi kekerasan, secara langsung “telunjuk” selalu diarahkan kepada umat Islam.

Belakangan ini terjadi aksi kekerasan diberbagai tempat, seperti yang terjadi di Cikeusik (Banten), Wonosobo, Kuningan, Bogor, dan NTB, selalu dikaitkan dengan umat Islam. Belakangan juga terkait dengan bom paket “buku” yang meledak di Utan Kayu, di kantor Radio 68, yang menjadi pusat gerakan JIL (Jaringan Islam Liberal). Kemudian, hari ini, umat Islam disuguhi sebuah peristiwa yang terjadi di Mapolres Cirebon, di mana “seseorang” melakukan bom bunuh di dalam masjid, saat berlangsung shalat Jum’at, dan melukai puluhan orang.

Beberapa analisis dan kemungkinan yang dapat dilihat dari peristiwa itu, apa tujuan dan motivasi dari peristiwa itu.

Pertama, bom bunuh diri yang berlangsung Mapolres Cirebon itu, kemungkinan mempunyai tujuan untuk mengatakan dan menegaskan kepada rakyat dan bangsa Indonesia serta umat Islam, bahwa di Indonesia ada kekuatan yang akan menjadi ancaman keamanan dan stabilitas negara, dan menggunakan kekerasan (bom bunuh diri) untuk mencapai tujuan mereka. Maka dengan peristiwa itu, rakyat, bangsa dan umat Islam, diarahkan untuk digalang menghadapi ancaman keamanan dari kekuatan yang mengggunakan kekerasan.

Kedua, kemungkinan  bom bunuh diri itu diarahkan untuk menggiring opini, yang khusus ditunjukkan kepada umat Islam, agar mewaspadai dan bersikap hati-hati, dan bahkan digalang untuk melawan kelompok-kelompok yang menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuannya. Karena itu, berbagai opini yang terus dikembangkan adalah bagaimana mengarahkan seluruh kekuatan bangsa ini, terutama  melawan apa yang disebut “terorisme” dan kaum “fundamentalisme”, yang sekaran menjadi perhatian pemerintah, dan unsur-unsur dalam pemerintahan yang tidakmenginginkan kekuatan Islam menjadi kekuatan utama dalam negara.

Ketiga, kemungkinan lainnya, saat sekarang ini berlangsung pembahasan di DPR tentang RUU Intelijen, yang diantaranya pemerintah menginginkan peran intelijen untuk dapat menyadap, menangkap, dan menahan. Ini berarti kehidupan negeri ini akan kembali ke zaman Orde Baru, di mana aparat intelijen mempunyai wewenang yang luas, khususnya dalam melakukan tindakan repessif terhadap unsur-unsur dan elemen-elemen yang dicurigai menjaid ancaman. Memontum peristiwa di Cirebon ini dapat mendorong DPR untuk memberikan kewenangan kepada aparat intelijen bertindak seperti melakukan penyadapan, penangkapan, dan penahanan. Ini sebuah langkah yang diinginkan pemerintah.

Keempat, kemungkinan lainnya, bisa saja pihak-pihak asing yang terus menggunakan unsur-unsur dan elemen-elemen dalam  negeri yang bertujuan untuk menciptakan instabilitas di Indonesia dengan cara-cara konvensional, seperti yang terjadi di Ceribon, dan mendorong pemerintah semakin repressif terhadap kekuatan Islam, yang sekarang ingin mendapatkan perananannya dalam negara. Perobahan politik di dunia Arab dan Afrika Utara, yang memunculkan perubahan yang luas, kemungkinan diantisipasi oleh asing, bagaimana perubahan jangan sampai menguntungkan kalangan Islam dan memberi peluang kepada kalangan Islam untuk tampil.

Kelima, mengapa yang menjadi sasaran adalah polisi? Adakah dengan perisitwa ini polisi  menginginkan peranan yang lebih luas, khususnya dalam penangangan masalah keamanan dalam negeri, dan peningkatan anggaran yang lebih besar lagi? Karena, selama ini polisi masih merasa belum cukup dengan anggaran yang dianggap kecil, dan belum mencukupi untuk melakukan operasi?

Keeanam, kemungkinan lainnya dari peristiba bom bunuh diri di Ceribon ini, sebagai upaya pengalihan isu politik yang sekarang telah muncul masalah yang sangat serius, khususnya terkait dengan unsur-unsur pemerintah, seperti perisitwa Melinda Dee, yang menampung nasabah-nasabah”kakap”, yang sampai sekarang nama-nama nasabah itu  belum  dibuka, siapa sebenarnya pemilik rekening di City Bank? Dan sebenarnya mempunyai efek damage yang jauh lebih merusak, dibandingkan dengan kasus bom bunuh di Cirebon.

Tetapi, perisitwa di Cirebon ini sudah membentuk opini yang luar biasa, karena peristiwa terjadi disebuah masjid dan saat berlangsungnya shalat Jum’at, dan itu belum pernah terjadi sebelumnya. Wallahu’alam.

@eramuslim

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: