Beranda > Al Islam, Peristiwa > Panduan Al-Qur’an Dalam Mengenal Musuh

Panduan Al-Qur’an Dalam Mengenal Musuh

Gelombang kebangkitan Islam dalam skala luas di Dunia Islam saat ini adalah hal baru yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Fenomena ini adalah contoh dari puncak kemarahan umat manusia terhadap kezaliman yang telah menindas kehidupan mereka. Kaum arogan selama ini dengan semena-mena mengganggu kehidupan sosial, budaya, politik dan ekonomi bangsa-bangsa di dunia dan menciptakan atmosfir kelabu dalam kehidupan dunia yang tidak sejalan dengan fitrah manusia. Karena itu, saat fitrah tergugah kesannya akan sangat mendalam dan mendatangkan kebaikan diantaranya adalah dengan munculnya semangat kebencian terhadap kaum durjana dan boneka-boneka mereka. Inilah yang tengah terjadi di kawasan Timur Tengah saat ini.

Beberapa waktu lalu, dalam pertemuan dengan para pemikir, ulama dan cendekiawan Muslim dari berbagai negara peserta Konferensi Internasional Persatuan Islam, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei menyebut kondisi saat ini sangat krusial dan menentukan. Sebab jika haluan politik dan revolusi ini dikenal dan diarahkan dengan baik dan benar maka banyak kesulitan dunia Islam yang akan terurai. Namun jika tidak, justeru kondisi ini akan melahirkan kesulitan-kesulitan yang baru. Beliau menegaskan, bahwa kunci kemenangan dan keberhasilan dalam gerakan jutaan massa yang luar biasa ini adalah mengenal kondisi dengan baik, memperkuat keimanan rakyat, menjaga persatuan, tak gentar menghadapi kebesaran musuh, dan memperkuat sangkaan yang baik kepada Allah Swt.

Mengenai keteladanan yang komprehensif dan sesuai bagi gerakan umat saat ini beliau menyebut para pejuang muslim di masa awal kemunculan Islam sebagai teladan yang tepat. Beliau mengatakan, “Apa yang terjadi di masa permulaan Islam ibarat papan lukisan yang sangat unik, artistik dan padat yang bagian-bagiannya menggambarkan periode-periode kehidupan dan sejarah umat Islam sampai hari ini bahkan sampai hari kiamat. Jika seseorang memerhatikan setiap bagiannya lalu membandingkannya dengan kondisi di zamannya, maka ia akan memahami dengan baik.”

Rahbar menyinggung berbagai peristiwa yang terjadi di masa awal Islam seraya menyebut iman yang kuat dan keyakinan akan pertolongan Allah sebagai keniscayaan yang mesti dimiliki untuk meraih kemenangan. Beliau menjelaskan, “Dalam menghadapi musuh ada dua macam sikap yang ditunjukkan oleh manusia. Sebagian mengatakan,

“Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya. (Q.S. al-Ahzab: 12)

Ini persepsi yang pertama dalam menghadapi sebuah fenomena. Ada pula pandangan yang kedua yaitu mereka yang mengatakan;

“Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (Q.S. al-Ahzab: 22)

Di setiap zaman selalu ada orang-orang yang mewakili kelompok pertama yaitu kelompok yang lemah iman dan kelompok kedua yaitu kelompok dengan iman yang kuat dan kesadaran hati. Medan konflik saat berhadap-hadapan dengan musuh adalah arena ujian yang besar bagi manusia untuk mengukur ketinggian iman dan ketulusannya. Sebagian orang yang beriman lemah akan mudah pasrah dengan terlebih dahulu merangkai beragam alasan untuk menjauhi medan juang. Kelompok ini akan setia kepada agama selagi kenyamanan dan kepentingan mereka tidak terusik. Orang-orang seperti ini dikecam oleh Allah dalam banyak ayat suci al-Qur’an. Sementara ada kelompok kedua yaitu mereka yang beriman kuat dan yakin akan pertolongan Allah.

Ayatollah al-Udzma Khamenei mengatakan, “Ada dua kelompok manusia. Kelompok pertama gemetar ketakutan saat menyaksikan wibawa, kekuatan militer, kekuatan diplomasi, kekuatan media, dan kekayaan AS. Mereka mengatakan, kita tak bisa berbuat apa-apa menghadapi ini. Jadi tak usah membuang energi secara percuma. Orang-orang seperti ini ada sampai sekarang dan kita sudah menyaksikannya dalam sejarah revolusi kita.” Mengenai kelompok kedua, beliau menjelaskan, “Tapi ada pula orang-orang yang bersikap lain. Mereka tidak pernah membandingkan kekuatan musuh dengan kekuatan Allah Swt. Kebesaran musuh tidak pernah mereka bandingkan dengan kebesaran Allah. Karena itu kekuatan dan kebesaran musuh akan nampak kerdil di mata mereka. Mereka memandang janji Allah sebagai janji yang benar dan merasa optimis dengan janji Ilahi. Ini penting. Allah Swt menjanjikan kepada kita,

“Dan sungguh Allah akan menolong orang-orang yang menolongNya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat dan Mulia.” (Q.S. al-Hajj: 40)

Ayatollah al-Udzma Khamenei menyatakan bahwa berbaik sangka kepada Allah akan mendorong orang untuk maju melangkah sementara berburuk sangka kepada Allah justeru akan membuat manusia pasrah dan menyerah kepada musuh. Beliau mengatakan, “[Di Iran] kita berbaik sangka kepada Allah dan Allah pun memperlakukan kita berdasarkan sangkaan kita terhadapNya. Sepanjang tiga puluh sekian tahun ini Allah memperlakukan kita berdasarkan baik sangka kepadaNya. Kita menghadapi banyak sekali masalah tapi kita selalu bisa mengatasinya.”

Pendiri Republik Islam Iran dan Pemimpin Besar Revolusi Islam, Imam Khomeini (ra) adalah sosok figur yang bisa menjadi teladan yang sempurna dalam hal ketaqwaan dan keimanan yang kuat kepada Allah. Dalam pandangan beliau hanya ada satu kekuatan yang mesti menjadi tumpuan, yaitu kekuatan Allah Swt. Dengan menyandarkan diri kepada kekuatan ilahi itulah beliau berhasil mengalahkan lawan-lawannya termasuk Rezim Pahlevi dan AS. Rakyat Iran telah meneladani sang Pemimpin dan tak pernah gentar menghadapi lawan-lawannya.

Al-Qur’an al-Karim dalam banyak ayat sucinya menyeru umat Islam untuk mengenal musuh dengan baik dan bijak dalam bersikap. Pemimpin Besar Revolusi Islam mengingatkan, “Biang dari segala kesulitan di Dunia Islam adalah Amerika Serikat (AS). Bagi bangsa-bangsa ini, bercokolnya kaum arogan dan imperialis di Dunia selalu menjadi pukulan yang paling berat dan telak terhadap identitas keislaman dan kebangsaannya. Bangsa-bangsa Muslim mulai dari kawasan Timur seperti Indonesia, Malaysia dan India sampai ke kawasan Afrika akan menjadi lemah ketika menyaksikan keberadaan kaum imperialis yang menumpahkan darah mereka dan melemahkan semangat mereka. Manifestasi dari kaum arogan hari ini adalah AS, sementara adidaya yang lain ada di pinggir halaman. Keberadaan AS ini adalah masalah yang paling besar. Dari sekian banyak petaka dan kesulitan Dunia Islam, keberadaan AS adalah musibah yang paling besar. Ini harus ditangani. AS harus dihalau dan dilemahkan, dan syukur sekarang AS sudah lemah. Kondisi ini mesti dipertahankan. Jangan pernah kita merasa pesimis dan putus asa.”

Mengenai kebangkitan rakyat Tunisia, Mesir, Libya dan sejumlah negara Arab dan Islam di utara Afrika dan Timur Tengah, Rahbar menyatakan bahwa ciri khas kebangkitan ini adalah partisipasi rakyat di tengah medan. Jika partisipasi ini diperkuat dengan semangat keislaman maka kemenangan adalah hasil yang pasti mereka raih. Beliau mengatakan, “Tentunya kehadiran jutaan orang seperti ini hanya bisa terjadi jika dilandasi oleh keimanan. Pertama, terjun ke tengah gelanggang, kedua tetap bertahan sampai perjuangan membuahkan hasil dan ketiga mempertahankan apa yang sudah dicapai. Ini memerlukan keimanan Islam dan keimanan kepada agama…Mengenai revolusi besar Perancis. Revolusi itu berhasil mencapai kemenangan berkat partisipasi rakyat. Tetapi tidak lestari…Sementara, kita berhasil mempertahankan revolusi berkat iman, Islam dan tiupan ruh al-Qur’an ke dalam kalbu bangsa ini. Inilah yang bisa menjamin kelestarian gerakan dan kemenangan mereka, dan memang inilah yang harus terjadi.”

(IRIB/AHF)

 

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: