Beranda > Peristiwa > Ketertiban itu “Made in Japan”

Ketertiban itu “Made in Japan”

Sewaktu Jepang masih menjadi bangsa yang menjajah Indonesia, mungkin pikiran kita mengatakan Jepang itu bangsa yang biadab dan bengis. Hingga masa 3,5 tahun penjajahan Jepang dirasakan lebih menderita ketimbang 3,5 abad penjajahan Belanda. Tetapi kultur masyarakat Jepang dewasa ini sangat berbeda jauh dengan apa yang kita pikirkan. Masyarakat Jepang ternyata bias menempatkan dirinya sebagai salah satu bangsa yang berbudaya tinggi di segala aspek kehidupannya. Baik di level politik maupun sosial.

Dalam hal kebersihan masyarakat Jepang sudah jauh lebih beradab dari masyarakat Indonesia. Pada kesantunan politik pun demikian sama. Hingga bila ada seorang tokoh politik Jepang yang merasa tidak mampu menjalankan amanah tidak malu mengundurkan diri. Atau lebih ekstrim lagi melakukan bunuh diri. Ini mengindikasikan budaya malu sudah tertanam kuat pada kultur masyarakat Jepang. Budaya malu seperti yang 15 abad lalu ditanamkan oleh Nabi Muhammad saw, nabinya umat Islam. Dan Islam adalah agama mayoritas di Indonesia.

Untuk membuktikan bahwa bangsa Jepang memang bangsa yang tertib, kita bisa melihat dari peristiwa pasca gempa dan tsunami yang beberapa hari lalu menimpa mereka. Dikabarkan bahwa musibah yang menelan sekitar 15 ribu jiwa tewas itu, belum lagi ancaman kebocoran reactor nuklir yang sudah di depan mata, ditambah sulitnya mendapat makanan dan air bersih, tapi toh masyarakat Jepang terlihat sangat santai dan seolah tak terjadi apa-apa.

Pasca gempa, seluruh jalur kereta api Tokyo dihentikan dan banyak warga yang kebingungan bagaimana mereka dapat kembali pulang. Meski demikian, warga tetap menjaga ketertiban dan ketenangan.

Tidak hanya itu, meski sebagian besar wilayah di utara Jepang telah rata dengan tanah, dan bahkan pencemaran radioaktif telah sampai ke Tokyo, namun pemerintah Jepang tidak mengumumkan hari libur. Yang lebih menarik, meski bahan pangan, air minum, dan bahan bakar menipis di berbagai kawasan, namun seluruh toko dan pom bensin tetap beraktivitas seperti biasa.

Pasca gempa dan penghentian aktivitas sejumlah reaktor pembangkit listrik nuklir, pemerintah Jepang memutuskan untuk dilakukan penghematan listrik dengan memadamkan listrik secara bergiliran di banyak wilayah. Meski lampu-lampu merah dan lampu jalanan di Tokyo dan sejumlah propinsi lainnya juga sering padam, namun hingga kini tidak dilaporkan adanya kecelakaan lalu lintas.

Di wilayah yang terkena gempa, persediaan makanan dan air minum sangat menipis, akan tetapi hal tersebut tidak dijadikan alasan bagi warga untuk saling berebut bantuan makanan. Warga berbaris dengan rapi dan tenang untuk mendapatkan bantuan makanan.

Apa yang membuat masyarakat negeri matahari terbit itu demikian tertib dan dapat mengendalikan kondisi psikologis pasca bencana besar yang melanda? Mungkin salah satunya didapat dari pendidikan sejak dini. Walau anak-anak Jepang tidak belajar agama, namun nilai-nilai keberagamaan ditanamkan sedemikian kuatnya pada anak-anak didik mereka.

Anak-anak Jepang, kabarnya, sudah dibiasakan melayani teman-teman sekelasnya dengan menyajikan makanan secara bergiliran. Pembiasaan ini untuk menanamkan kesadaran anak-anak agar tertib, disiplin, menghargai budaya antre, rajin, penuh kebersamaan dan peduli sesama. Tentunya pendidikan akademik mutakhir juga diajarkan pada mereka sehingga mereka mampu memiliki ketrampilan yang membanggakan buat bangsanya.

Falsafah Jepang mengatakan, “Anak-anak adalah harta karun negara”. Nasib bangsa masa depan diyakini ada di pundak anak-anak mereka. Maka, negara selalu memperlakukan istimewa anak-anak Jepang, baik dibidang pendidikan, kesehatan, gizi, maupun perkembangan emosionalnya. Sistem pendidikan nasional Jepang pun lebih diarahkan demi kemajuan anak-anak bangsa ke depan.

Dan, saat ini tampaknya bangsa Jepang sudah mulai menuai hasilnya. Sehingga walau secara logika kondisi psikologis mereka masih terguncang akibat gempa dan tsunami serta ancaman bahaya nuklir, toh mereka masih bias menjaga ketertiban social. Sedemikian tertib dan normal kondisi di Jepang, jika seorang datang ke negara ini dan tidak mengetahui peristiwa terbaru di Jepang, maka ia tidak akan mengetahui bahwa negara tersebut sedang dilanda bencana dahsyat.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: