Beranda > Al Islam > Pendidikan Islam Sebagai Basis Keluarga

Pendidikan Islam Sebagai Basis Keluarga

Saat ini banyak orangtua beranggapan bahwa sekolah adalah segalanya. Melalui lembaga sekolah Isllam mereka mengharapkan dapat mencetak anak-anak yang Islami. Mereka menyerahkan pendidikan buah hati mereka sepenuhnya kepada guru-guru. Mereka sadar bahwa pengetahuan dan ilmu agama mereka masih kurang.

Makna pendidikan bagi seorang muslim adalah sarana belajar dan mengajar, proses transformasi ilmu dari seorang guru kepada murid yang sesuai dengan tuntunan syariat. Metode yang baik ialah ketaladanan (uswah) bukan ketelatan. Artinya, setiap ilmu yang diperoleh harus segera diamalkan.

Bukankah para sahabat diajarkan untuk tidak teruru-buru beranjak ke ayat sepuluh, sebelum mereka betul-betul hafal dan mengamalkan ayat pertama sampai dengan sembilan surat al-Qur’an? Itulah metode pendidikan yang diajarkan Rasulullah SAW, sehingga sahabat menjadi beradab (tandzim) dengan sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taati) bukan sami’na wa asshaina (kami dengan tapi kami cuek).

Target pendidikan kita haruslah kembali ke akarnya, melahirkan siswa-siswi yang berakhlakul karimah. Yang tidak saja dapat menghafal danmembaca secara indah ayat-ayat suci al-Qur’an, tapi juga harus memahami, menghayati, dan mengamalkan isinya. Yang tidak saja harus memiliki nilai A atau 10 pada bidang studi matematika, tetapi juga santun dalam bertutur kata dan berperilaku, memiliki adab kepada orangtua, guru, dan lingkungan sosial.

Pendidikan haruslah berawal dari rumah atau keluarga, bukan di sekolah. Ia lahir dari keteladanan orangtua yang senantiasa memberikan tuntunan dan tontonan kepada anak-anaknya. Tak ada artinya orangtuaa memanggil guru untuk mengajarkan mereka membaca al-Qur’an, jika ia sendiri tak bisa membaca al-Qur’an.

Untuk mewujudkan semua itu yang harus kita bangun sejak dini ialah sistem pendidikan yang mampu menghantarkan anak didik menjadi generasi Rabbani yang berbasis tauhid. Pendidikan harus memberikan andil besar pada nilai-nilai kemanusiaan yang ada. Krisis multidimensi yang kini melanda kehidupan kita tak dapat dilepaskan dan realitas pendidikan selama ini.

Semua orang tua menginginkan anaknya menjadi shalih dan shalihah. Sayang, masih banyak orangtua yang belum mampu untuk memilij, menentukan, dan menyeimbangkan model pendidikan dengan baik karena kesibukan harian. Orangtua nyaris tanpa kontrol menyerahkan begitu saja proses tumbuh kembang anak pada sembarang sekolah dan lingkungan. Lahirlah pribadi-pribadi yang mengalami kegersangan jiwa, kenakalan remaja, narkoba, pornografi, dan pornoaksi. Ini hanyalah sederet kecil bukti ketidakberhasilan pengelolaan sistem pendidikan kita selama ini.

Faktor orangtua sebagai pendidik atau yang mewakilinya, konsep pendidikan, metodologi pendidikan, serta lingkungan yang kondusif untuk menyukseskan pendidikan adalah variabel yang perlu didperhatikan oleh siapapun yang peduli dengan masalah pendidikan. Oleh karenanya, diperlukan langkah-langkah untuk melakukan reformasi pendidikan . tentu saja bukan sembarang reformasi. Reformasi tanpa misi dan visi justru akan berakibat fatal dan tragis bagi kemanusiaan. Diperlukan kehadiran sebuah sistem pendidikan yang betul-betul telah teruji eksistensinya dalam sejarah peradaban. Pendidikan Islam adalah jawabannya.

Jika kita menginginkan lahirnya generasi Rabbani yang berperadaban, harus dimulai dengan memperbaiki pendidikan anak-anak kita. Sebab sistem pendidikan tidak boleh dibiarkan mandeg atau mati. Apalagi dalam kurun waktu yang lama. Upaya merealisasikan idealisme lewat langkah kreatif harus terus-menerus dilakukan untuk mewujudkan generasi baru yang berperadaban Islami.

Nah, menjadi kewajiban kita untuk memikirkan dan mempersiapkan lahirnya sistem pendidikan (sekolah) yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi mampu menumbuhkan misi ultra kuat untuk mewujudkan cita-cita luhur sebuah generasi. Insya Allah, tidak hanya Iran yang mampu melahirkan al-Farabi dan Ibnu Sina, bukan hanya Jepang yang memiliki masyarakat super kreatif. Kita bisa memulai membangun generasi Rabbani dari modal dan nilai yang paling mendasar yaitu nilai kesucian tauhid yang hanif (lurus) dan kuat.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: