Beranda > Peristiwa > Kapitalisme, Sebuah Sistem Anti Keseimbangan

Kapitalisme, Sebuah Sistem Anti Keseimbangan

Berita buruk yang terjadi di seluruh penjuru dunia, tidak muncul tanpa sebab yang tiba-tiba. Melainkan karena tangan-tangan manusia sendiri yang mendatangkan kerusakan. Akal dan pikiran manusia sendiri yang berperan melahirkan kesengsaraan. Nafsu dan perilaku manusialah yang telah membuka kotak pandora dan akhirnya berakibat pada kesengsaraan, manusia, alam, dan seluruh alam.

Pada seluruh tataran kehidupan, kerusakan selalu berasal dari manusia sendiri. Di sistem politik, sosial dan ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, keseimbangan alam dan tata kehidupan. Semua karena hidup kita sudah terlalu jauh meninggalkan kodrat alam, sistem yang diciptakan Tuhan, sunatullah yang seharusnya menjadi tuntunan.Aturan-aturan Allah, yang menciptakan alam ini telah jauh kita tinggalkan, bahkan kita lupakan. Padahal, ketika Allah menciptakan semesta, Dia juga melengkapinya dengan sistem pengelolaan yang seimbang.

Kerusakan-kerusakan terjadi ketika manusia mempertuhankan akalnya sendiri, nafsunya sendiri lewat banyak cara dan fenomena. Mulai dari sistem sosialisme yang dilahirkan dari rahim komunisme, sistem sekuler, pasar bebas, kapitalisme hingga intelektual liberal. Semuanya tidak saja telah terbukti berdampak buruk, tapi juga telah gagal memberikan manfaat, telah gagal menyejahterakan umat manusia, telah gagal menghadirkan kehidupan yang lebih baik untuk seluruh penduduk bumi.

Sistem sosialisme dan komunisme, bukan saja telah gagal, tapi sistem ini juga telah melahirkan kesengsaraan yang panjang di berbagai penjuru dunia. Sistem komunis, selama berkuasa 74 tahun, dari tahun 1917 hingga tahun 1991 telah mencetak rekor pembunuhan di dunia. Komunisme yang melahirkan sistem sosialis di 74 negara telah membunuh lebih dari 100 juta manusia. Jika dibgi angka tersebut dengan lamanya komunisme berkuasa, sistem ini berarti telah membunuh seorang manusia setiap 24 detik sekali. Bayangkan kerusakan yang dilahirkan untuk alam dan lingkungan, jika nyawa manusia sama sekali tak berharga di hadapan ajaran mereka. Di sisi ekonomi pun konsep sama rata dan sama rasa, justru terbukti melahirkan kesengsaraan dan kehancuran yang luas jaraknya. Uni Sovyet pun tercatat telah gagal membangun “surga dunia” di Moskow sana.

Sistem kapitalisme juga telah menunjukkan kegagalan yang sama, bahkan sejak tahun 1930 ketika terjadi the Great Depression. Jika hari ini kita masih mendapati negara-negara besar bisa bertahan, itu pun hanya akal licik masyarakat sekuler yang mengakali sistem pendukung kapitalisme. Mereka menciptakan lembaga-lembaga seperti Bank Dunia, IMF, WTO untuk terus menerus menopang eksistensinya. Padahal untuk mempertahankan itu semua, telah lahir penderitaan yang berkepanjangan bagi negara-negara kecil, bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.

Negara-negara kapitalis maju dengan menyedot sumber daya alam di seluruh penjuru dunia. Mereka bertahan dan menjadi besar dengan sifat parisitik, yang menghisap dan menggerogoti negara-negara berkembang yang lebih lemah. Karenanya, sungguh tak mengherankan sama sekali jika saat ini terctat hanya ada 24 negara maju dan kaya. 12 negara lain tercatat sebagai negara menuju maju dan kaya. Sedangkan 150 lebih negara lainnya masuk dalam negara miskin, terbenam dan tak berdaya.

Begitu pula dengan sistem yang konon disebut paling mutakhir, neo-liberalisme yang dilahirkan di Amerika pada tahun 1944. Bahkan dengan sistem yang paling mutakhir pun dunia tidak bertambah aman, tidak bertambah sejahtera, bahkan semakin runyam tak keruan. Jurang antara si miskin dan si kaya semakin lebar dan dalam. Sebagian besar negara-negara, bahkan terjebak dalam hutang (debt trap), yang membuat rakyat mereka semakin sengsara. Pada tahun 2004, Indonesia harus menyiapkan dana Rp. 100 trilyun untuk membayar hutangnya. Sedangkan dana pembangunan hanya sebesar Rp 67 trilyun saja. Begitu pun ekonomi dunia, semakin tidak stabil saja lajunya. Nilai tukar mata uang, seperti penuh kejutan. Dan hari ini, kita semua merasakan imbas dari krisis ekonomi global yang diawali oleh permainan segelintir manusia serakah di Amerika sana.

Namun pada kenyataannya, kita sebagai masyarakat muslim masih saja sangat menyanjung seluruh sistem yang dibangun oleh keterbatasan ilmu manusia tersebut. Padahal, Islam datang dengan membawa ajaran yang paripurna, yang apabila ditelaah lebih jauh akan melahirkan sistem-sistem kehidupan yang baik untuk manusia. Sistem yang lebih bermanfaat buat manusia ketimbang sistem-sistem yang ada di dunia saat ini.

Sebagai pencipta kehidupan Allah SWT tentu sudah paham betul apa yang harus dilakukan manusia dalam menjalankan kehidupan. Karena itu Allah pun pasti telah menyediakan sistem kehidupan untuk manusia. Sistem hidup yang telah disediakan dalam Islam sangat bertolak belakang dengan secara prinsip dengan sistem buatan manusia. Sistem Allah ini bertujuan agar manusia mendapatkan kesejahteraan material dan juga spiritual secara seimbang. Serta kehidupan yang baik, hayyatan thayyibah. Ditambah pula dengan mengutamakan persaudaraan atau ukhuwah yang akan menjadi jaminan tersendiri pada pemerataan keadilan. (Sistem Islam seperti itu telah menjadi sebuah kenyataan pada sejarah kehidupan Rasulullah dan para sahabat).

Perbedaan signifikan antara sistem dalam Islam dengan sistem Barat (kapitalis, sosialis, komunis, neo-liberalis) karena sistem Islam memiliki orientasi pada kehidupan langit, bukan semata-mata kehidupan dunia saja. Sementara sistem Barat malah tidak memperdulikan kehidupan langit sedikit pun. Orientasi mereka lebih pada kesejahteraan duniawi yang materi saja. Alhasil, prinsip tersebut jelas melahirkan persaingan yang hebat karena didorong oleh hawa nafsu yang serakah dan ingin menguasai.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam al Ghazali dalam sebuah kitabnya, bahwa pembangunan yang tidak dilandasi dengan orientasi langit (iman pada Tuhan) hanya akan melahirkan hati yang gelisah, jiwa yang tak tenang serta kesengsaraan. “Dunia yang tak diatur oleh iman hanya akan membawa musibah, keruh air minumnya, dan mewariskan berbagai bencana bagi makhluk di bagian manapun mereka berada.”

Menurut Al Ghazali, sistem Islam lebih menempatkan kekayaan pada urutan terakhir. Karena memang dunia bukan tujuan, ia hanya efek samping dan sarana. Dan ini sangat bertolak belakang dengan sistem ekonomi kapitalis yang menjadikan kekayaan dan dunia menjadi tujuan utama. Ketika kekayaan material menjadi tujuan hidup kemanusiaan, maka justru akan melahirkan ketidakseimbangan, kerusakan lingkungan, penyakit sosial, bahkan radikalisme dan terorisme.

Nah, dengan sedikit paparan di atas, masihkan umat Islam di dunia harus terus merelakan diri mereka untuk dibohongi oleh sistem kapitalis dan neo-liberalis yang telah terbukti kegagalannya dalam mengangkat derajat hidup umat manusia. Dan, yang perlu diingat adalah, bahwa sistem kapitalis dan neo-liberalis ini memang sengaja memelihara kemiskinan. Sebab sistem tersebut otomatis akan ditinggalkan jika sudah terjadi keseimbangan keadilan ekonomi. Karenanya sistem tersebut tidak mau terjadi keseimbangan dalam kehidupan umat manusia. Sama dengan dengan seorang rentenir yang tak bisa hidup dalam komunitas sosial yang sudah terjamin ekonominya…

Wallahu‘alam… Begitulah…

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: