Beranda > Al Islam, Mutiara Hati > Hikmah Di Balik Kesulitan

Hikmah Di Balik Kesulitan

Sesungguhnya pada diri manusia tersimpan potensi dan bakat untuk mencapai kesempurnaan yang pantas. Namun potensi itu tak akan teraktualisasi tanpa adanya latihan-latihan. Misalnya, sebagaimana pertumbuhan dan kekuatan fisik terjadi dalam latihan-latihan berat, dan orang yang ingin mendapatkan kekuatan fisik yang lebih besar konsekuensinya harus berlatih lebih banyak dan lebih keras lagi. Demikian pula pertumbuhan dan kesempurnaan rohani diperoleh dengan memasuki dan menanggung kesulitan dan kesukaran. Dengan sarana itu, bakat manusia yang dikaruniakan Tuhan berubah menjadi realitas.

Dalam bahasa al Qur’an, mempersiapkan lahan bagi praktik kerohanian disebut “ujian”. Ibtila, imtihan, fitnah, dan ungkapan-ungkapan lains emacam itu yang telah ditunjukkan dalam al Qur’an menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi pada manusia adalah karena perencanaan dan takdir Illahi.

Kenyataannya, apa yang disebut “ujian” dalam bahasa Al Qur’an adalah juga pembinaan. Dalam hal ini, kita dapat menamakan dunia sebagai tempat pembinaan di samping tempat pengujian. Karena, bakat-bakat manusia dibina di dunia ini dan kemampuan potensialnya diwujudkan.

Dalam riwayat dikatakan bahwa Allah Yang Mahakuasa menguji kaum mukmin dengan kesukaran dan kesulitan, sebagaimana ibu membesarkan anaknya dengan menyusuinya. Namun, di antara pengertian di atas al Qur’an telah menunjukkan suatu fakta lain sehubungan dengan ujian Ilahi ini, yakni bahwa apabila seseorang melewati ujiannya dengan baik dan terbina dengan pantas di tempat pembinaan ini serta beroleh angka-angka prestasi yang baik, maka selain mencapai tingkat kesempurnaan dan pertumbuhan rohani tertentu, ia juga menjadi model bagi orang lain dan mencapai kedudukan kepemimpinan dan imamah. Jadi, salah satu tujuan di balik ujian-ujiann yang berupa kesukaran dan kesulitan itu ialah supaya di antara manusia muncul individu-individu yang akan menjadi teladan bagi orang lain.

Tujuan Tuhan dalam menurunkan kesukaran dan menguji manusia itu dapat digambarkan agar orang yang menonjol tumbuh dalam masyarakat dan mendapatkan kedudukan tinggi, dan orang lain meneladani dan mengikutinya. Tingkat ini hanya “diujikan” kepada para Rasul dan Nabi Allah, seperti yang dianugerahkan kepada Nabi Ibrahim as.

“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan) lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” (QS. 2 : 124)

Untuk mendapat anugerah tertinggi itu Ibrahim as mendapat ujian terlebih dahulu dari Allah SWT. Mula-mula Ibrahim as dibakar dengan api oleh orang-orang Namrud. Ini adalah satu tahap ujian. Setelah lulus dari itu dengan hasil baik, ia mencapai kesiapan untuk menerima kedudukan.

Dalam riwayat dikatakan bahwa ketika Ibrahim as dimasukkan ke dalam api, Jibril datang kepadanya lalu mengatakan, “Apakah engkau menghendaki pertolongan?”

Ibrahim as menjawab, “Saya memerlukan pertolongan. Setiap makhluk, setiap wujud, pasti membutuhkan dan memerlukan. Tetapi, bukan dari Anda.”

Ini ujian pertama bagi Ibrahim as, apakah dalam kesukaran semacam itu ia akan memohon pertolongan bahkan kepada Jibril ataukah tidak.

Pada tahap selanjutnya, Ibrahim as disuruh Allah untuk membawa istrinya Siti Hajar as dan putranya yang tercinta Ismail as ke gurun gersang di padang pasir Hijaz, di Mekkah. Sesuai dengan perintah Allah itu, Ibrahim as pun membawa keluarganya berpindah dke tanah itu, meninggalkan mereka di sana, dan menanggung pahitnya perpisahan dengan tabah demi keridhoan Allah Yang Mahakuasa.

Ujian ketiga, yang tersulit dari semuanya, ialah ujian yang diterima Ibrahim as ketika ia lemah di hari tua—saat kemampuan fisiknya telah merosot, Allah SWT mengaruniainya seorang putra, yakni Ismail; tentulah beliau sangat senang akan anak itu, beliau menemaninya dan bermain dengannya. Tapi kemudian Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih putranya yang sangat berarti, cakap, sempurna, dan amat disayanginya itu, dengan tangannya sendiri. Ini ujian yang sangat sulit dan sangat tak masuk akal. Tetapi, tanpa ragu, Ibrahim as memberitahukan kepada putranya tentang perintah itu. Ismail pun menyambut,

“Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. 37:102)

Masha Allah… Di sinilah orang yang telah menanggung kesukaran dengan sabar dan menyerahkan semua yang dimilikinya pada jalan Allah harus menjadi imam dan teladan bagi orang lain. Seperti itu pula, beberapa nabi besar lain, setelah menanggung kesulitan tertentu, baru kemudian mencapai kedudukan imamah yang tinggi.

Juga terkadang suatu kelompok masyarakat menjadi teladan bagi kelompok lain. Apabila dalam suatu masyarakat ada suatu kelompok yang berhiaskan kebajikan, kebaikan moral, dan takwa, dan menanggung secara suka rela kesulitan dan kesukaran, memberikan dengan senang hati kelapangan dan kemakmuran hidup, dan mengarahkan usaha mereka untuk melayani hamba-hamba Allah, maka kelompok ini mendapatkan kedudukan pemimpin dan menjadi teladan bagi yang lain.

Hikmah lain di balik adanya kesukaran dan kesulitan ialah agar manusia sadar bahwa kehidupan duniawi bukanlah kehidupan yang ideal. Karena sesungguhnya kehidupan yang ideal bagi manusia baik secara fisik maupun batin lagi kekal tak mungkin tercapai di dunia ini. Oleh karena itu, melalui “ujian” di dunia Allah ingin agar manusia mengambil pelajaran supaya tidak tergila-gila pada dunia ini, tidak terjebak oleh kesenangan dan kemewahannya, dan mengetahui bahwa hidup ini adalah suatu sarana untuk ujian, sebuah jembatan yang harus dilalui untuk sampai pada kehidupan yang abadi. Dan, jika hidup tanpa ada kesulitan dan kesukaran dalam “ujian”, bisa sangat mungkin manusia tak akan pernah mengetahui kelemahannya dan keadaannya yang sebenarnya sangat “membutuhkan”.

 

*) Diperas dari buku “Monoteisme, Tauhid Sebagai Sistem Nilai dan Akidah Islam” karya Muhammad Taqi Misbah.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: