Beranda > Al Islam, Peristiwa > Dalam Pandangan Islam, Segala Bentuk Penistaan Terhadap Alloh SWT dan Rasul-NYA Sama Dengan Ajakan Berperang.

Dalam Pandangan Islam, Segala Bentuk Penistaan Terhadap Alloh SWT dan Rasul-NYA Sama Dengan Ajakan Berperang.

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar”.(QS Al-Maaidah:33)

Naluri, Logika dan Nalar saya sebagai seorang Muslim Mu’allaf mencium bau sangat busuk yang sedang mengancam dan mengotori Aqidah & Syari’at Islam. Khususnya di Indonesia, sebuah negara dimana hak-hak seseorang untuk beragama, berkeyakinan, dan menentukan tingkat akhlak sepertinya dibiarkan dalam suasana permisif dan serba boleh.

Di dalam kitab-kitab Hadits dan Tarikh telah banyak tercatat bahwa ketika Rasulullah SAW dihina secara pribadi, maka beliau diam dan bersabar bahkan mendoakan dan memintakan ampunan Allah SWT bagi orang-orang yang menghinanya. Itulah contoh ketinggian akhlak Rasulullah SAW. Akan tetapi di saat Aqidah dan Syariat Islam dilecehkan (bukan pribadi beliau) maka beliau angkat bicara dan bertindak dengan tegas.

Kita umat Islam diwajibkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an untuk mensuri-tauladani Rasulullah SAW. Disaat pribadi kita dihina marilah kita bersabar dan berlapang dada seperti Rasul Yang Mulia. Akan tetapi ketika Aqidah dan Syariat Islam (bahkan Allah SWT, RasuluLlah SAW, Al-Qur’an dan Al-Hadits, dan para Sahabat Rasul SAW, para Imam madzhab dan Salafus Sholeh) dihina dan dilecehkan, maka kita harus bertindak tegas meluruskan persoalan untuk membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Minimal kita harus angkat bicara. Karena sikap diam atas hal ini bisa disalah-artikan sebagai pembenaran.

Sudah banyak penyelewengan Aqidah dan Syari’at Islam yang didiamkan, dan baru diambil tindakan setelah umat Islam bergolak. Contohnya:

  • Ada seorang Ahmad Musaddek yang mengaku sebagai Nabi dan menerima wahyu, bahkan sampai mempunyai pengikut puluhan ribu orang.
  • Ada kelompok Ahmadiah yang mengaku Islam akan tetapi menganggap dan meyakini bahwa Nabi Palsu Mirza Ghulam Ahmad adalah “Nabi” sesudah Nabi Muhammad SAW yang sudah secara jelas disebutkan di dalam Al-Qur’an sebagai Khatamun Nabiyin (nabi terakhir). Kelompok ini berkembang sampai pengikutnya mencapai ratusan ribu (bahkan mungkin sudah jutaan), padahal oleh MUI sudah difatwakan sebagai kelompok sesat dan menyesatkan.
  • Ada Lia Eden yang menistakan agama-agama di Dunia.
  • Dan masih banyak lagi.

Semua itu baru diambil tindakan setelah Umat Islam bereaksi dan bergolak. Artinya, seandainya umat Islam diam tidak bereaksi, maka pihak brwajibun diam dan membiarkan saja tanpa merasa perlu untuk mengambil tindakan apapun.

Sekarang, ada lagi kelompok sesat perusak Aqidah dan Syariat Islam yang menamakan kelompoknya Jaringan Islam Liberal (JIL). Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang secara resmi didirikan oleh pemerintah dengan tujuan salah satunya adalah mengeluarkan fatwa, sudah jelas-jelas dan dengan tegas menyatakan dalam Fatwa MUI No.7 tahun 2005 bahwa JIL ADALAH KELOMPOK SESAT. Mereka ini gencar berdakwah tentang pemahaman mereka yang sesat tentang Aqidah dan Syariat Islam.

Pertanyaannya:

  1. Kenapa kelompok sesat JIL dan simpatisan-simpatisannya ini masih terus didiamkan dan tidak diberantas?
  2. Apakah yang berwajib tidak tahu? Masa sih?? Kita orang awam aja tahu kok.
  3. Apakah menunggu umat Islam bergolak lagi seperti yang sudah-sudah??
  4. Apakah menunggu organisasi Islam seperti FPI turun ke jalan berunjuk rasa dan akhirnya ditunggangi dan bentrok lagi dengan AKKBB yang didominasi oleh orang-orang JIL?? Mungkin supaya Ustadz Muhammad Rizik Shihab dibuatkan sel permanen di LP Cipinang, begitukah maksudnya??
  5. Lantas untuk apa MUI yang anggotanya terdiri dari hampir seluruh unsur ormas Islam itu dibentuk kalau fatwanya tidak didengar??

Fatwa MUI harus segera ditindak-lanjuti dan dilaksanakan oleh pemerintah, karena kalau tidak sebaiknya MUI dibubarkan saja.

Sungguh kasihan, tragis dan ironis nasib umat Islam di Indonesia ini. Kita umat Islam adalah umat yang populasinya mayoritas di Indonesia, akan tetapi kepentingan kita untuk menjaga kemurnian aqidah dan syariat Islam saja tidak diperhatikan dan dibela oleh pemerintah. Saya sebagai seorang Mu’allaf TAHU BETUL bahwa kawan-kawan yang pernah seagama dengan saya (sebelum saya memeluk agama Islam) benar-benar merasa senang dan BERSYUKUR, karena walaupun mereka minoritas tetapi nasib mereka jauh lebih baik daripada umat Islam di Indonesia.

Berhati-hatilah terhadap bahaya besar yang sedang dan sudah mengancam untuk mengotori dan memporak-porandakan Aqidah & Syari’at agama kita Islam. Fakta-fakta sejarah telah membuktikan bahwa Islam sulit untuk dihancurkan dari luar. Telah terbukti dalam fakta-fakta sejarah bahwa kalau ingin menghancurkan Islam, maka Islam harus dihancurkan dari dalam tubuh Islam itu sendiri, dan dengan mempergunakan tangan dan lisan orang-orang Munafik yang mengaku diri mereka Muslim.

Ingatlah wahai Saudara-saudaraku Muslimin dan Muslimat, bahwa sebetulnya keberadaan dan tipu muslihat mereka orang-orang munafik yang mengaku muslim seperti JIL ini telah diantisipasi oleh Allah SWT Yang Maha Tahu. Sejak 1430 tahun yang lalu kita umat Islam telah diperingatkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an. (Bahkan sepak-terjang golongan munafik seperti JIL dan antek-anteknya ini telah disebutkan sejak beberapa ribu tahun yang silam dalam Kitab-kitab Taurat dan Injil). Yaitu peringatan kepada kita Umat Islam yang telah dikupas secara tuntas oleh Allah SWT di AWAL Surat Al-Baqarah ayat 8 s/d 20, yang terjemahannya sbb:

Ayat 8: Diantara manusia ada yang mengatakan “Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian”, PADAHAL MEREKA ITU SESUNGGUHNYA BUKAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN.

Ayat 9: Mereka hendak MENIPU ALLAH DAN ORANG-2 YANG BERIMAN, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

Ayat 10: DALAM HATI MEREKA ADA PENYAKIT, LALU DITAMBAH OLEH ALLAH PENYAKITNYA, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

Ayat 11: Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi (maksudnya bukan kerusakan materi/benda, tetapi kerusakan aqidah, akhlak, pemutar-balikan tafsir Al-Qur’an dan Hadits, dsb), mereka menjawab:”Sesungguhnya kami orang-orang yang MENGADAKAN PERBAIKAN”.

(Dst… sangat jelas dan lengkap s/d ayat 20, mohon dibaca dan direnungkan).

SubhanAllah…. Sejak ribuan tahun yang lalu Allah SWT telah memperingatkan kita akan keberadaan dan tipu-daya orang-orang munafik.

Waspadalah, di masa sekarang ini banyak sekali orang munafik seperti kelompok JIL dan simpatisannya (yang telah disebut oleh Allah SWT dalam Ayat-ayat diatas). Mereka itu sok pintar dan sok tahu, yang dengan mudahnya mengemukakan pendapat pribadi, berijtihad secara pribadi, menghukum ini haram, itu halal, dengan pertimbangan pribadi. Mereka memakai baju Muslim, ada yang digelari Cendekiawan Muslim, ada yang digelari Kiyai, ada yang menjadi Rektor Perguruan Tinggi Islam, ada yang aktif sebagai Pengurus Ormas Islam, dsb. Mereka dengan mudah menafsir-nafsirkan Al-Qur’an dan Al-Hadits sebatas kemampuan logika dan nalar mereka secara pribadi, tanpa introspeksi betapa rendahnya kemampuan mereka dalam Ilmu Ke-Islaman. Bahkan mereka berani dan secara tidak sopan dan tidak berakhlak menghina Manusia Yang Paling Suci, Sayyidina RasuliLlah Muhammad SAAW yang tidak pernah berdusta, disucikan oleh Allah SWT dan kesuciannya terus menerus dijaga dan senantiasa dipantau oleh Allah SWT. Mereka menghina dan melecehkan para Sahabat Nabi SAW dan para Imam Madzhab dan Imam Mujtahid. Mereka menghina kesucian Al-Qur’an dan Al-Hadits. (Saya mempunyai bukti-bukti lengkap dan autentik berupa tulisan-tulisan dan rekaman tentang tindakan Penghinaan dan Pelecehan sebagaimana tsb diatas).

Golongan ini merasa “berhak” untuk ikut ber-Ijtihad dalam memutuskan Hukum Islam dan menafsir-nafsirkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Mereka mengklaim, bahwa kalau Imam Syafi’I, Imam Malik. Imam Hanafi, Imam Hambali dan para Imam yang lain berhak untuk menjadi Mujtahid (ber-Ijtihad), maka kelompok JIL dan semua orang juga boleh ber-Ijtihad. Seolah-olah mereka berkata: “Kalau Imam Syafi’I boleh ber-Ijtihad, gue juga boleh donk”. Artinya, saya (Franky Subrata) boleh ber-Ijtihad. Dan tentu saja Si Amat, Si Sugeng, Si Slamet, Si Minah, Si Inem, George Bush, Bill Clinton, SBY, JK, Si Ahmad, Si Walid, Si Faisal dll juga boleh donk ber-Ijtihad sebatas kegoblokan logika dan rendahnya kemampuan nalar masing-masing.

Astaghfirulah… kalau fenomena buruk dan berbahaya ini diperbolehkan dan terus-menerus ditoleransi, maka sebaiknya para Ulama, Kiyai dan Ustadz harus mulai bersiap-siap untuk berganti profesi menjadi pedagang, penyanyi, petani dsb, karena fatwa dan tuntunan beliau-beliau itu sudah tidak dibutuhkan lagi. (Semoga VIRUS JAHAT dan BERBAHAYA yang terus-menerus DIUMBAR dan DIBIARKAN oleh Pemerintah ini tidak menular ke umat agama-agama lain. Karena kalau sampai Umat Kristiani, Hindu, Budha, dll tertular, maka para Pastor, Pendeta, Biksu, Rahib dll juga harus bersiap-siap berganti profesi mengikuti jejak para Ulama, Kiyai dan Ustadz).

ISLAM MENGAJARKAN KEPADA KITA UNTUK TIDAK LANCANG DAN SEENAKNYA MELAKUKAN 3 HAL:

  1. Jangan lancang Ber-Ijtihad untruk menetapkan suatu hukum Islam.
  2. Jangan lancang Menafsirkan makna dan maksud ayat-2 Al-Qur’an
  3. Jangan lancang Menafsirkan makna dan maksud Hadits Nabi SAW.

Sepeninggal RasuluLlah SAAW pernah terjadi di masa Khulafa’ur Rasyidin, ada beberapa orang sahabat yang ber-Ijtihad sendiri-sendiri sesuai tingkatan ilmu pengetahuan agama dan nalar mereka, sampai akhirnya Sayyidina Umar bin Khattab R.A. menutup pintu Ijtihad (melarang ber-Ijtihad) untuk menghindari kacaunya hukum Islam. (Baca Kitab Tarikh Imam As-Suyuthi, dan kitab-kitab tarikh lainnya).

Akan tetapi karena Ijtihad seorang Ulama’ dibutuhkan untuk menetapkan suatu hukum Islam maka para Imam Madzhab dan Imam Mujtahid membolehkan ber-Ijtihad dengan syarat-syarat tertentu yang tidak mudah. Diantaranya, Imam Nawawi menetapkan syarat-syarat seseorang untuk boleh ber-Ijtihad adalah antara lain:

SYARAT KE-1): Menguasai (Mahir dan Pakar) bahasa Al-Qur’an (bahasa Arab) 100%, termasuk Nahwu, Sharaf, Balaghah dan ‘Adab (budaya), karena Al-Qur’an dan Hadits tertulis dalam bahasa Arab. Mustahil seseorang akan memahami Al-Qur’an dan Hadits, apalagi menafsirkan makna dan maksud yang terkandung di dalam Al Qur’an dan Hadits apabila dia tidak menguasai bahasa Arab 100% secara fasih dan mahir dalam hal Bicara, Baca, Tulis, Penafsiran, dan Pemahaman arti dan maksudnya.

SYARAT KE-2): Menguasai dan memahami kandungan Al-Qur’an 30 Juz seluruhnya (100%), termasuk Tafsir, Asbabun Nuzul (sebab-2 turunnya suatu ayat, apakah peristiwa yang melatar-belakangi mengapa Allah SWT menurunkan ayat tsb). Kalau tidak, dia akan menarik suatu hukum dari suatu ayat yang akan bertentangan dengan ayat lain. Misalnya, do’a terhadap orang yang sudah meninggal dunia; ada golongan-golongan yang menyatakan bahwa mendoakan orang yang sudah meninggal dunia, bersedekah untuk dan atas nama mereka, dan membaca Al-Qur’an yang pahalanya dihadiahkan kepada mereka tidak berguna, dengan dalil Ayat Al-Qur’an sbb:

“Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah ia kerjakan.” (An-Najm: 39)

Hal itu tentu bertentangan dengan banyak ayat yang menyuruh kita mendo’akan orang mati. Karena dalam ayat lain tercantum:

“Orang-orang yang datang setelah mereka berkata, yaa Allah ampunilah kami dan SAUDARA-SAUDARA KAMI YANG TELAH MENDAHULUI KAMI dengan beriman.” (Al-Hasyr: 10)

Juga termasuk mengetahui ayat yang berlaku Umum atau ‘Aam dan yang Khusus atau Khas; yang Mutlak (tanpa kecuali) dan yang Muqayyad (terbatas); yang Nasikh (hukum yang mengganti) dan yang Mansukh (hukum yang diganti); dan Asbaabun Nuzul (sebab turunnya) ayat untuk membantu dalam memahami ayat tersebut.

SYARAT KE-3): Menguasai Ilmu Hadits (100% SELURUH Hadits Rasulullah SAW tanpa terkecuali dalam SEMUA tingkatan Hadits), baik dari segi Riwayat (Perawinya) untuk dapat membedakan antara hadits yang shahih dan yang dhaif, maupun dari segi Asbabul Wuruud (sebab peristiwa yang melatar belakangi mengapa RasuluLlah SAW sampai bersabda dengan hadits itu). Mengapa harus menguasai Ilmu Hadits? Karena yang pertama kali berhak untuk menjelaskan Al-Qur’an adalah Rasulullah SAW, maka apabila tidak menguasai ilmu hadits, dikhawatirkan dia akan menarik kesimpulan atas suatu hukum yang akan bertentangan dengan hadits yang shahih, atau bahkan bisa bertentangan dengan Ayat tertentu dalam Al-Qur’an. Kalau sudah begini tentu ijtihad tersebut tidak dapat dibenarkan, artinya bathil.

Perhatikan Ayat-ayat sbb:

“Kami turunkan kepada engkau (wahai Nabi Muhammad) peringatan (Al-Qur’an) supaya engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka, mudah-mudahan mereka memikirkan.” (An-Nahl: 44)

“Dan apa yang Rasul berikan kepadamu hendaklah kamu ambil, dan apa yang Rasul larang kepadamu hendaklah kamu hentikan, dan takutlah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras siksa-Nya.” (Al-Hasyr: 7)

SYARAT KE-4): Mengetahui Ijma’ (kesepakatan hukum) Para Sahabat. Supaya kita dalam menentukan hukum tidak bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh para sahabat, karena merekalah yang lebih mengetahui tentang syari’at Islam. Mereka hidup bersama Nabi SAAW, dibimbing dan ditempa secara langsung oleh Nabi SAW dan mengetahui sebab-sebab turunnya Al-Qur’an dan disabdakannya Hadits.

SYARAT KE-5): Mengetahui dan memahami seluk-beluk adat istiadat dan kebiasaan masyarakat di suatu Negara/Daerah. Karena Adat Istiadat dan kebiasaan bisa dijadikan hukum selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ijtihad pada zaman Nabi SAW tidak diperlukan, sebab apabila para sahabat mempunyai suatu persoalan, maka mereka akan langsung bertanya kepada Nabi dan Nabi langsung menjawab.

Setelah Nabi SAW wafat, Ijtihad memang diperlukan karena permasalahan selalu berkembang. Akan tetapi Syarat-syarat sebagaimana tertulis diatas berlaku bagi seorang Ulama’ Mujtahid. Apabila tidak memperhatikan syarat syarat tsb diatas, maka hasilnya adalah seperti sekarang ini. Yaitu banyaknya orang sok pintar seperti Kelompok JIL dan simpatisannya yang dengan lancang, sembrono dan dengan tidak mempunyai rasa malu berani menafsir-nafsirkan Al-Qur’an dan AL-Hadits seenak udel mereka.

Pertanyaan saya: Apakah masih ada orang di Indonesia pada masa sekarang ini yang menguasai seluruh Syarat-syarat tersebut diatas?

Kalau ada maka dimohon dengan hormat agar yang bersangkutan mengacungkan tangannya di forum ini (atau tolong ditunjukkan dan disebutkan siapa gerangan nama Ulama Yang Mulia itu) supaya kita Umat Islam bisa mengambil manfaat dan memohon Fatwa Ijtihadi dari beliau.

Walahu A’lam bissawab.

AstaghfiruLlah min kulli dzunub wal khotoya.

Robbi Shalli wa Sallim wa Baarik daa’iman wa abadan ‘ala Habibika Sayyidina Muhammadin, wa Alihi wa Dzurriyatihi Attohirin ajma’in, Amiiin.

@ Muhammad Franky Subrata

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: