Beranda > Al Islam, Peristiwa > Ahmadiyah dan Paham Pluralisme

Ahmadiyah dan Paham Pluralisme

Bentrok antar warga yang dilatari atas nama agama kembali muncul. Peserta bentrok kali ini tidak lain dan tidak bukan adalah mereka yang seolah sudah terbiasa bentrok (bentrok koq biasa?) antara umat Islam mainstream dengan jamaah Ahmadiyah.

Mengapa mainstream umat Islam sering bentrok dengan jamaah Ahmadiyah, ini yang kiranya perlu dicari akar masalahnya oleh pemerintah sebagai pemegang otoritas tunggal untuk mengatur kehidupan sosial warganya. Pemerintah jangan hanya bisa mengeluarkan SKB atau apalah namanya tanpa melihat dengan jujur dan jernih akar permasalahannya.

Jika dikatakan benih konflik tersebut diakibatkan adanya perbedaan dan umat Islam cenderung dikatakan tidak dapat hidup toleran dengan perbedaan, toh dalam tubuh umat Islam sendiri juga banyak sekali terjadi perbedaan atau khilafiyah. Tetapi mengapa perbedaan tersebut tidak sampai meningkat kepada bentrokan fisik antar umat Islam mayoritas? Dengan demikian berarti bentrok yang kerap terjadi antara umat Islam mayoritas dengan jamaah Ahmadiyah bukan terletak pada masalah adanya perbedaan semata, tetapi lebih serius dari itu.

Paham Ahmadiyah yang berasal dari buah pikir Mirza Ghulam Ahmad ini menurut pemahaman umum para ulama telah menistakan agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Hal ini dikarenakan paham Ahmadiyah mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah sebagai seorang nabi. Padahal menurut AlQur’an yang turun 15 abad silam tidak akan ada lagi nabi dan rasul setelah Muhammad SAW. Dengan demikian maka Ahmadiyah dianggap telah menistakan kebenaran alQur’an yang berarti juga mengingkari Allah SWT sebagai sumbernya, dan menggeser posisi nabi Muhammad SAW dari kedudukannya sebagai nabi dan rasul terakhir dalam agama Islam. Alhasil, siapa pun tidak akan sudi bila rumahnya dimasuki dan diacak-acak maling.

Tapi ironisnya tindakan represif umat Islam terhadap paham Ahmadiyah yang memang sudah dianggap sesat oleh MUI ini kerap mendapat tantangan dari segelintir orang yang mengaku umat Islam juga dan terlanjur diberi status sebagai intelektual muslim pula. Dengan berlandas pada argumen pluralisme, para pembela Ahmadiyah ini menyatakan dengan sedikit angkuh bahwa umat Islam, khususnya ormas Islam yang sering terlibat bentrok dengan Ahmadiyah sebagai orang yang tidak mengerti ajaran Islam. Menurut mereka, para pembela atau pengagum Ahmadiyah ini, bahwa tindakan represif dan cenderung anarkis bukan ajaran Islam. Ajaran Islam yang paling substantif menurut mereka adalah menciptakan kedamaian dan menjunjung tinggi nilai-nilai prularitas.

Buat orang awam seperti saya retorika paham Islam yang diserukan oleh umat pluralis itu memang dapat diterima ruang nalar. Namun setelah mengalami percampuran kimiawi di dalam otak, nalar sehat saya juga mengatakan, apa benar substansi ajaran Islam yang paling primordial itu adalah perdamaian dan pluralitas?

Saya ingat rukun Islam yang lima. Menurut awamnya nalar saya, bahwa yang menjadi substansi primordial atau pondasi ajaran Islam itu adalah apa yang disebutkan dalam butir pertama rukun Islam, yaitu bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah utusan Allah. Setelah itu barulah disusul oleh butir-butir selanjutnya yang memang bermain pada ranah sosial muamalah. Jadi, menurut nalar saya yang lemah ini, pokok atau pondasi ajaran Islam itu ada pada tauhid. Dengan begitu, meyakini posisi Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang difirmankan Allah SWT sebagai nabi terakhir adalah termasuk dalam inti tauhid itu sendiri. Ini mengindikasikan bahwa perdamaian dan pluralisme itu bukan ajaran Islam yang substantif. Sebab seperti dikatakan alQur’an, bahwa banyak orang beramal baik pada ranah sosial tetapi tidak diterima amalannya tanpa memiliki ketauhidan.

Sedangkan tema perdamaian dan pluralisme memang merupakan ajaran Islam yang juga harus diapresiasi serta diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi penentu juga dalam hisab di ahirat kelak. Tetapi apakah pluralisme yang diajarkan Islam itu sama dengan apa yang dipahami oleh kaum pluralis yang sering memvonis mayoritas umat Islam tidak toleran terhadap kaum minoritas lantaran tidak menghargai adanya pluralitas?

Sekarang mari kita lihat apa sih makna sesungguhnya dari kosa kata pluralisme itu.

Menurut asal katanya Pluralisme berasal dari bahasa inggris, pluralism. Apabila merujuk dari wikipedia bahasa inggris, maka definisi pluralism adalah : “In the social sciences, pluralism is a framework of interaction in which groups show sufficient respect and tolerance of each other, that they fruitfully coexist and interact without conflict or assimilation.” Atau dalam bahasa Indonesia : “Suatu kerangka interaksi yg mana setiap kelompok menampilkan rasa hormat dan toleran satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi (pembauran / pembiasan).”

Jika melihat kepada ide dan konteks konotasi yang berkembang, jelas bahwa pluralisme di indonesia tidaklah sama dengan pluralism sebagaimana pengertian dalam bahasa Inggris. Dan tidaklah aneh jika kondisi ini memancing timbulnya reaksi dari berbagai pihak yang merasa dirugikan.

Kaum pluralis sering mengkonotasikan pluralisme dengan semangat religius, bukan hanya sosial kultural; pluralisme digunakan sebagai alasan pencampuran atau asimilasi antar ajaran agama; dan pluralisme digunakan sebagai alasan untuk merubah ajaran suatu agama agar sesuai dengan ajaran agama lain. Dengan demikikian, paham pluralisme seperti ini akan mengabsurdkan kebenaran agama pada logika tiap-tiap umat beragama.

Dalam pandangan Islam, sikap menghargai dan toleransi kepada pemeluk agama lain adalah mutlak untuk dijalankan (Pluralitas). Namun bukan berarti beranggapan bahwa semua agama adalah sama (pluralisme), artinya tidak menganggap bahwa Tuhan yang kami sembah adalah Tuhan yang kalian sembah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menentang paham pluralisme asimilasi dalam agama Islam, namun tetap menghormati eksistensi pluralitas itu sendiri.

Islam mengakui adanya pluralitas agama dan keyakinan. Maknanya Islam memang mengakui adanya agama dan keyakinan di luar agama islam, serta mengakui adanya identitas agama-agama selain Islam. Islam tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk Islam. Mereka dibiarkan memeluk keyakinan dan agama mereka. Tapi Islam tidak akan rela jika ajaran pokoknya (tauhid) dinistakan oleh umatnya sendiri. Inilah yang membuat umat Islam bertindak agresif terhadap jamaah Ahmadiyah yang dalam pemahamannya meyakini ada Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi terakhir.

Dan inilah pangkal permasalahan yang harus disikapi dengan tegas oleh pemerintah. Bukan malah membuat SKB tiga Menteri untuk mengatur tata cara peribadatan dan dakwah jamaah Ahmadiyah, namun lebih dari itu harus tegas melakukan reidentifikasi terhadap jamaah Ahmadiyah, bahwa Ahmadiyah itu bukan bagian dari Islam.

Kemudian kepada kaum pluralis yang masih mengaku beragama Islam dan percaya pada kebenaran al Qur’an dimohon untuk memberikan pengertian kepada kawan mereka, jamaah Ahmadiyah, bahwa dengan mengakui Mirza Ghulam sebagai nabi, sesungguhnya pemahaman seperti itu sudah keluar dari ajaran Islam. Dan, dipertegas dalam identitas kewarganegaraannya bahwa mereka adalah penganut Ahmadiyah, bukan Islam.

 

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: