Beranda > Peristiwa > Ghetto itu Bernama Negara Israel

Ghetto itu Bernama Negara Israel

“Dan, negara Israel yang kini terbentuk bisa jadi merupakan sebuah ghetto yang luas, bukan sebuah negara berdaulat”

Bangsa Israel atau Yahudi memang tak akan pernah hidup tentram di mana pun mereka tinggal. Klaim sebagai bangsa pilihan Tuhan yang dulu pernah melekat padanya sesungguhnya telah lenyap seiring pembangkangan mereka terhadap Tuhan itu sendiri. Dan sejatinya ini juga menjadi perhatian untuk umat Islam. Jika mereka tidak ingin ditinggalkan Tuhan maka janganlah hidup seperti Bani Israel yang selalu ‘mengecewakan’ dan tak mau tunduk kepada Tuhan walau telah dilimpahkan banyak karunia dan nikmat pada mereka. Pada akhirnya Bani Israel pun dilupakan Tuhan dan dibiarkan hidup tanpa pertolonganNya.

Tapi mungkin kita berpikir sebaliknya tat kala melihat bahwa saat ini Bani Israel telah memiliki satu negara sendiri. Mungkin kita berpikir bahwa Tuhan telah memaafkan Bani Israel hingga Dia memberikan tanah air kepada Bani Israel. Pendapat demikian bisa jadi betul tapi tak menutup kemungkinan juga salah.

Mari kita melongok sedikit sejarah kehidupan Bani Israel atau bangsa Yahudi yang terekam dalam sejarah dunia. Sebagaimana yang ditulis oleh Mr. Moh. Roem, bahwa ada satu perkataan yang mempunyai arti yang khusus bagi kaum Yahudi, yaitu diaspora. Artinya penyebaran di segala penjuru jurusan. Bangsa Yahudi memang pernah mengalami hal ini selama kurang lebih dua ribu tahun. Mereka kehilangan penghidupan sebagai satu rakyat, dan tersebar di mana-mana, di semua negara. Mereka menderita karena selalu dikejar-kejar, diusir, dibenci, didiskriminasikan, dibunuh, dirampas harta bendanya dan berbagai penderitaan lainnya. Buat orang yang percaya mengatakan bahwa kondisi bangsa Yahudi yang demikian itu tak lain karena Tuhan telah ‘mengutuk’ dan mencabut hak istimewanya sebagai bangsa pilihan lantaran kemaksiatan yang terus dilakukan. Kembali pada penderitaan bangsa Yahudi. Ada dua kata yang menceritakan penderitaan bangsa Yahudi, yang mana bila kita dengar masih mendirikan bulu roma kita. Dua kata itu adalah “pogrom” dan “ghetto”. Pogrom berasal dari bahasa Rusia yang bermakna penghancuran. Dalam perkembangan sejarah perkataan itu mendapat arti: pengejaran orang Yahudi, beserta dengan pembunuhan, perampasan dan penghancuran harta benda mereka.

Nasib ini sudah dialami bangsa Yahudi di Eropa selama abad pertengahan (middle age, 476 – 1492 M), dan mempunyai latar belakang agama. Pada era ini bangsa Yahudi dimusuhi dan dibunuh oleh golongan Kristen yng memandang bahwa bangsa Yahudi paling bertanggungjawab atas pembunuhan Yesus (Nabi Isa). Akan tetapi kata pogrom baru digunakan pada akhir abad ke-19.

Dalam seperempat abad terakhir di abad 19, gerakan anti-Yahudi bertambah kuat dan menjelma sebagai gerakan yang disertai kekerasan, terutama di Rusia, yang menolak memperlakukan orang Yahudi sebagai warga negara yang berhak penuh. Pembunuhan Tsaar Alexander II, tanggal 13 Maret 1881 menjadi tanda untuk melancarkan pogrom yang hebat. Banyak sekali orang Yahudi yang dibunuh, wanitanya diperkosa, 600 rumah, toko dan sinagog dihancurkan di wilayah Cherson. Kemudian disusul oleh pogrom di Kiev (8-9 Mei) dan Odesa (15-19 Mei). Pada permulaan musim gugur 1881 berlangsung serentetan pogrom di Warsawa, yang berakhir pada musim panas tahun 1882. Selama revolusi Rusia berlangsung di tahun 1917 mulai lagi penderitaan orang Yahudi.

Di Ukraina terjadi pogrom yang mengerikan, yang dilakukan oleh lawan-lawan revolusi bolsjewik. Orang Yahudi dipersalahkan dengan adanya revolusi. Seorang Jenderal bernama Denikin menjadi terkenal sebagai orang yang memimpin pogrom terbesar sejak abad pertengahan. Seperempat juta orang Yahudi diperkirakan menjadi korban pogrom tersebut.

Pogrom juga terjadi di Hungaria, Polandia, Rumania, Lituania dan Cekoslowakia. Sesudah pemerintah komunis mulai berkuasa berakhirlah pogrom di Rusia.

Akan tetapi di Jerman pada masa kekuadaan Hitler nasib buruk kembali menimpa orang Yahudi. Dan, dalam Perang Dunia II berlangsunglah pogrom terbesar dalam sejarah Yahudi yang dilakukan oleh Hitler dan partai Nazinya. Pada tahun 1933 Hitler dengan kekuasaannya melakukan “pogrom dingin” yaitu pembersihan kehidupan nasional dari anasir Yahudi. Hal ini dilakukan Hitler karena menganggap bangsa Yahudi sebagai pengkhianat yang melakukan sabotase dari dalam, sehingga Jerman kalah perang pada tahun 1918. Dan, selama Perang Dunia II tercatat 6 juta orang Yahudi sukses “dimusnahkan” dalam kamar gas oleh Hitler.

Lalu ada lagi kosa kata “Ghetto”. Ia adalah tempat lokalisasi kaum Yahudi yang dilakukan atas titah Paus Paulus IV. Dalam sidangnya yang belangsung di Istana Paus di Latern (Lateren Council, 1179 dan 1215), Dewan Gereja Katolik mengeluarkan ketetapan yang melarang orang Kristen untuk tinggal dengan orang Yahudi dan melarang bekerja dengan atau menjadi pegawai orang Yahudi. Akhirnya pada tahun 1555 Paus Paulus IV menentukan agar orang Yahudi diberi tempat yang khusus tidak boleh bercampur dengan orang Kristen.

Dimulailah Ghetto yang pertama di kota Roma pada tahun 1556. Sebenarnya kata ghetto sudah ada sejak tahun 1516 di kota Venice, dan kemungkinan nama ghetto itu diambil dari nama kota yang menjadi pusat pabrik besi di Venice, kota Ghetto.

Di Marokko, Tunisia dan Persia, Ghetto sudah ada di abad ke 13, sedang di Praha sudah sejak abad 10. Kaisar Frederik II, yang terkenal progresif memasukkan orang Yahudi ke dalam ghetto di Palermo di tahun 1212. Ghetto itu dipagari dengan tembok yang tinggi dan mempunyai gerbang dengan penjaga orang Kristen. Pintu gerbang akan ditutup pada saat matahari terbenam dan orang Yahudi tidak diperkenankan keluar ghetto hingga esok hari. Pada hari Minggu dan hari-hari besar Kristen mereka juga tidak dibolehkan keluar. Sistem ghetto itu pun menjadi acuan bagi semua negara di Eropa. Menurut Oosthoek’s Encyclopaedie (1950) bahwa dengan ghetto tersebut sudah barang tentu memudahkan pembunuhan terhadap orang Yahudi dan lebih-lebih perampasan harta benda mereka.

Kejadian kontradiktif justru terjadi di Spanyol, selama orang Islam berkuasa di sana, kurang lebih 600 tahun lamanya, orang Yahudi mendapat perlakuan yang baik, malah mengalami renaisance (kebangkitan) kebudayaan mereka. Dalam Encyclopaedia Britanica dikatakan, bahwa penyerbuan orang Arab membawa kebebasan (buat Yahudi). Masyarakat kuno yang merosot sebagai akibat ketidak toleransian Byzantium, hidup lagi, terutama di Cairo dan Kairouan.

Di Spanyol muncul penghidupan baru yang istimewa. Orang Yahudi tidak mengenal pembatasan-pembatasan sama sekali dalam seluruh kehidupannya. Kemampuan mereka dalam bidang bahasa dan keuangan memberikan kepada mereka tempat yang tinggi dalam pemerintahan. Di bawah perlindungan Hasdai (c.915-975) (dokter pribadi dan Menteri Chalif Abd. Ar-Rahman III di Cordoba), dan Samuel ha/ Nagid (c.993-1056) lahirlah kebangkitan yang mengagumkan, dalam mana terjalin tradisi lama ajaran-ajaran Palestina dan Mesopotamia, berbagai-bagai lapangan ilmu orang Arab dan ilmu Yunani kuno yang diketemukan kembali. Poesi Yahudi mendapat penghidupan baru, berdasarkan teladan-teladan Arab, dengan Judah ben Samuel Halevi (c.1058-1141) dan Ibn Gabirol (c.1020-1050/70). Maimonides (1135-1204) menjadi wakil yang terbaik dari masa Spanyol dalam bidang kedokteran, perundang-undangan, falsafah dan ilmu tentang Talmud.

Tapi masa yang baik untuk kaum Yahudi di Spanyol itu hanya berlangsung selama orang Islam berkuasa di sana. Dalam Oosthoek’s Encyclopaedia (1950) diceritakan, keadaan yang baik sekali di Spanyol berakhir waktu kerajaan Islam runtuh dan wilayahnya direbut oleh orang Kristen. Dengan jatuhnya Granada sebagai pusat kekuasaan orang Islam, hilang juga alasan terakhir untuk memberi perlakuan baik terhadap orang Yahudi, dan tiga bulan kemudian Ferdinand dan Isabella mengeluarkan dekrit, yang mengusir orang Yahudi dari Spanyol.

Dalam abad ke 8, sebanyak 77% dari semua orang Yahudi (1.800.000) hidup di bawah kekuasaan Islam dan baik di bidang ekonomi dan kebudayaan. Keadaan mereka memuaskan. Dalam wilayah Khalifah Abbas jumlah orang Yahudi 900.000, dan di Baghdad ada jamaah Yahudi yang sejahtera di bawah pemimpin mereka yang bernama Exilarch, seorang kaya raya dan memiliki wewenang atas kaumnya, yang diberikan oleh Khalif. Demikian tertera dalam Oosthoek’s Encyclopaedia.

Pada taanggal 14 Mei 1948 bangsa Yahudi sudah memiliki tanah air sendiri berkat bantuan Inggris melalui sebuah Deklarasi Menlunya Arthur James Balfour tertanggal 2 November 1917. Dalam deklarasi itu ia menyatakan bahwa pemerintah Inggris menyetujui pembentukan rumah nasional bagi rakyat Yahudi di Palestina. Ada kabar yang mengatakan bahwa Inggris terpaksa “bermuka manis” kepada Yahudi karena mereka butuh uang Yahudi untuk membiayai perangnya. Ini menjadi beralasan karena saat deklarasi itu dikeluarkan pada tahun 1917 Inggris memang tengah terlibat dalam Perang Dunia I.

Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, apakah dengan memiliki negara sendiri bangsa Yahudi sudah benar-benar menjadi bangsa yang merdeka?

Jika kita memaknai arti kata merdeka itu dengan mempunyai satu tempat di mana kita bisa hidup dengan tenang, tidak dikejar-kejar dan dibunuh oleh rakyat lain, kita dapat membangun dengan tentram dan berkasih sayang dan menjadlin persahabatan dengan negara tetangga serta tolong menolong, maka keadaan itu tidak terjadi bagi negara Israel. Artinya Israel atau bangsa Yahudi walau sudah memiliki negara sendiri namun tetap belum menjadi rakyat yang merdeka penuh karena senantiasa mendapat gangguan keamanan dan selalu bermusuhan dengan negara-negara tetangganya. Mereka pun tidak dapat hidup tentram dalam lingkaran rakyat yang memusuhinya. Hal ini disebabkan karena pembentukan negara Israel tersebut terbentuk di atas wilayah bangsa Palestina.

Dan, sebagai sebuah bangsa yang lama menempati tanah itu, tentunya rakyat Palestina tidak tinggal diam melihat wilayahnya diokupasi oleh bangsa Yahudi. Inilah yang kemudian menegaskan bahwa sesungguhnya Bani Israel itu masih tetap tidak memiliki wilayah yang sah dan diakui oleh seluruh komunitas internasional. Yahudi akan tetap mendapat perlakuan kurang baik dari berbagai negara karena tindakan dan sikapnya yang selalu menjadi “pengkhianat” bagi kemanusiaan. Dan, negara Israel yang kini terbentuk bisa jadi merupakan sebuah ghetto yang luas, bukan sebuah negara berdaulat.

Maha benar Allah yang telah berfirman, bahwa Bani Israel akan selalu hidup tanpa tanah air dalam arti yang seluas-luasnya. Semua dikarenakan kegemaran mereka mengkhianati perjanjian dengan Tuhannya. Dan, peristiwa serupa juga bisa saja terjadi pada umat Islam jika tidak mengikuti dan patuh pada aturan Allah SWT…

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: