Beranda > Tokoh Nasional > Revolusi Sarung, Pici, dan Sandal HOS Tjokroaminoto

Revolusi Sarung, Pici, dan Sandal HOS Tjokroaminoto

HOS Tjokroaminoto

Di jaman kolonial , pakaian orang masih terikat dengan aturan atau kebiasaan masyarakat yang ketat. Pakaian masih menjadi ukuran bagi yang memakai, apakah ia termasuk golongan atas golongan bawah.

Golongan yang paling atas ialah golongan Belanda, termasuk golongan Eropa. Pakaiannya berupa jas, celana dan sepatu dengan atau tanpa topi. Golongan pegawai negeri atau priyayo diperbolehkan memakai jas dan celana seperti Belanda, tapi kalau ia orang Jawa atau Sunda harus memakai blankon, kalau dari luar Jawa harus memakai pici atau lainnya yang sejenis. Berpakaian persis seperti golongan Belanda dipandang tidak patut untuk orang pribumi. Pakaian mempunyai arti seperti pepatah Belanda” “De kleren maken den man” (Pakaian itu membuat orang).

Saat itu sarung adalah pakaian yang dipandang kurang sopan atau kurang terhormat. Di sekolah-sekolah negeri di Jawa, di Pekalongan pun, tempat sarung dimana dibuat, murid-murid tidak diperkenankan memakai sarung di sekolah-sekolah negeri. Sarung adalah pakaian rakyat jelata.

Tapi tidak demikian bagi seorang Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Tokoh Syarikat Islam yang juga pahlawan nasional ini justru memilih sarung sebagai pakaian khasnya.

Kalau celana itu lambang prestise golongan atas dan sarung adalah pakaian rakyat jelata, maka Pak Tjokro tidak memilih memakai celana dan menganjurkan rakyatnya untuk memakainya juga, akan tetapi Pak Tjokro seolah turun ke bawah dan membaurkan diri dengan rakyat, dengan pakaian khasnya tersebut; sarung dan sandal. Bagi Pak Tjokroaminoto, persamaan hak tidak dipandang melalui apa yang dipakainya. Karena itu Pak Tjokro tidak mau meniru pakaian golongan atas.

Walaupun Pak Tjokroaminoto memakai sarung, toh bukan ia yang turun kastanya, tapi justru sarung yang naik pangkatnya. Sarung menjadi pakaian orang yang terhormat, dan hilanglah perbedaan dalam masyarakat yang ditentukan dengan pakaian celana atau sarung.

Hingga masa sekarang potret HOS Tjokroaminoto yang paling terkenal dan bernilai sejarah pun adalah potret lukisan yang mengenakan kain sarung, jas tutup, pici, dan sandal. Pak Tjokro terlihat tengah memandang dengan sorot mata tajam. Perhatikan pula caranya duduk, kaki kanan diangkat dan diletakkan di atas lutut kaki kiri dimana seorang Jawa tradisionil tidak duduk seperti itu. Mungkin ini maksud H. Agus Salim yang pernah mengatakan, bahwa pada saatnya potret itu berarti revolusi. Dan, sarung, pici, dan sandal yang HOS Tjokroaminoto adalah sebuah bentuk revolusi kesamaan hak dan martabat manusia.

Lantas, buat apa saat ini kita repot meniru-niru pakaian dan budaya bangsa Barat?

Dikutip dari tulisan Moh. Roem pada Majalah Kiblat, 1974.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: