Beranda > Al Islam, Peristiwa > Mencari Tuhan Di Bulan Desember

Mencari Tuhan Di Bulan Desember

September 14, 2010 Tinggalkan komentar Go to comments

Natal atau yang sekarang diistilahkan Dies Natalis, yang berarti maulid atau kelahiran, hanyalah salah satu kata yang diwarisi dari bangsa Portugis yang beragama Katolik Roma. Yang dimaksud Natal, menurut keyakinan umat Kristiani adalah hari kelahiran Yesus Kristus pada tanggal 25 Desember. Orang Kristen yang shalih memperingatinya dengan puja-puja dan doa-doa, saling memberi hadiah dan sebagainya. Sedangkan orang-orang awam diperingati dengan dansa-dansi di bar-bar dan pesta-pesta.

Sebagaimana perayaan kegerejaan lainnya, natal juga merupakan pengganti perayaan orang jahil (kafir). Namun hari lahirnya Yesus, yang nama aslinya Yesyua, dan Arabnya Isa, sebetulnya tidak ada yang mengetahuinya. Pada zaman itu bukan kelaziman mencatat hari lahir atau wafatnya seseorang. Terlebih keluarga Yesus adalah orang-orang yang sederhana, murid-muridnya adalah nelayan yang biasanya tidak dapat membaca dan menulis.

Lebih sulit lagi untuk penentuan tanggal natal ini disebabkan orang Yahudi menggunakan penanggalan qamariyah (manjarn lunar year), bukan tahun syamsiah (zonnejar solar year) seperti yang dipakai sekarang.

Semula, kedatangan Yesus di muka bumi (Epiphany P), dirayakan tiap 6 Januari. Di beberapa negara, misalnya Armenia, kelahiran Yesus tetap dirayakan pada tanggal itu. Sementara Gereja Griek hingga kini merayakan natal pada tanggal 7 Januari. Digesernya ke tanggal 25 Desember, adalah pengaruh penanggalan Romawi, yang menyebut tanggal itu dies invictisolis (artinya; hari Tuhan (dewa) matahari (Mithras) yang telah dikalahkan). Yesus diumpamakan sebagai matahari kebenaran dan cahaya dunia. 25 Desember merupakan hari kelahiran Mithra, dewa matahari Iran, yang dipuja di Roma. Hari Minggu juga beriwayat dari sini, yang disebut mereka hari Zondag, Sunday, sontag, hari matahari, hari gereja ‘pengganti hari Sabtu’.

Awal pergeseran ke tanggal 25 Desember dilakujan pada tahun 533 oleh seorang rahib Scyta bernama Dionyss Exigus, ketua biara dan ahli nujum Roma. Sebab, kaisar Romawi waktu itu memaksa Dionyss untuk menentapkan tanggal dan kelahiran Yesus. Namun Dionyss tidak memberikan alasan-alasan yang memuaskan dalam menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari natal. Tanggal itu ditetapkan berdasarkan kelahiran dewa matahari pada umumnya. Hal ini dilakukan agar ajakan Christiani dapat lebih mudah diterima oleh masyarakat waktu itu yang masih mempercayai dewa-dewa matahari (suatu akulturasi). Pendewaan matahari yang sudah dimulai pada zaman purbajala memang lazim terdapat di daerah-daerah yang tinggi kebudayaannya seperti dewa matahari Amaterasu di Jepang, dewa apollo di Yunani, Hercules di Romawi, Mithra di Persia, Adonis dan Atis di Syria, Osiaris, Isis dan Horus di Mesir, Baal Samus dan Tarte di Babilonia dan seterusnya. Semua dewa matahari itu diriwayatkan lahir sekitar 25-28 Desember, seperti dewa Mithra tanggal 25 Desember, Osiris 27 Desember, Horus dan Apollo 28 Desember. Dewa-dewa ini juga dikisahkan lahir dari seorang dara di sebuah goa dan dinamakan ‘pembaa terang’, perantara, juru selamat, pembebas dsb.

Mithra sendiri di Roma dan Alexandria, sebagaimana diakui oleh Dt. Jerome, lambat laun terdesak oleh Christianty. Tertullian membenarkan bahwa Mithraisme lenyap setelah gereja mengambil alih warna-warna mithraisme. Bahkan selanjutnya Tertullian mengatakan bahwa rahib-rahib dizamannya menganggap sama Mithraisme dengan Christianty, kecuali dalam hal nama. Padri Farral yang juga seorang sejarawan dalam karangannya, Life of Christ, mengatakan tidak ada hujjah yang memuaskan untuk menetapkan kelahiran Yesus jatuh pada tanggal 25 Desember. Karena Bibel mengisahkan dalam Lukas 2:8, “Maka dijajahan itupun ada beberapa orang gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan binatangnya pada waktu malam”.

Keterangan ini memustahilkan menerima tanggal 25 Desember sebagai tanggal kelahiran yesus, sebab bulan Desember adalah puncak musim hujan di Palestina (tempat kelahiran Yesus), sehingga tidak akan ada kawanan binatang atau gembala di waktu malam di padang Bethlehem. Kritikan yang sama juga disampaikan oleh Encyclopedia Britanica.

Ada juga yang berpendapat, natal adalah hari pengganti hari raya Romawi Saturnalia (17-20 Desember) atau pengganti perayaan Jerman Kuna Koel (biasanya 12 hari dan tidak boleh ada kegaduhan). Pendapat itu muncul karena banyak upacara-upacara yang disamakan dengan natal, misalnya roti joel menjadi roti natal (kerstbrood). Adapun tahun 1 Masehi yang ditetapkan oleh rahib Dionysus sebagai tahun kelahiran Yesus, ternyata juga merupakan suatu kekeliruan.

Menurut Encyclopedia Britanica, raja Herodes yang berkuasa di negeri Yesus meninggal pada tahun 4 sebelum 1 Masehi. Maka, jika disesuaikan dengan Injil Maatius 2:16 yang mengisahkan raja Herodes berniat melenyapkan kemungkinan Yesus menjadi raja sekalian Yahudi, menintahkan anak berumur 2 tahun ke bawah untuk dibunuh. Sehingga kelahiran Yesus harus diundur sekurang-kurangnya sampai tahun 4 SM. Oleh karena itu, para sejarawan memilih 5 atau 6 Masehi sebagai tarikh karena lebih cocok dengan kisah-kisah dalam Injil. Beberapa ahli sejarah bahkan mengundurkan sampai 8-10 Masehi. Natal 25 Desember untuk pertama kali dirayakan pada 354 M di Antakia (Antiochie). Ciri khas natalan di gereja sejak abad VII yakni makan sapi, palungan (crib, kribbe) dengan bayi Yesus di dalamnya. Sedangkan penempatan kribbe di rumah-rumah dimulai setelah St. Franciscus dari Assasia merayakan natal di hutan Grecio pada abad XIII.

Kebanyakan upacara-upacara natal berasal dari adat istiadat “jahiliyah”, seperti pemberian hadiah, hults semacam semak atau pohon yang selamanya hijau (ilex aquifolium), ranting dari pohon mare (viscum albun) untuk mengusir roh jahat atau setan dari istal, dan bintang di puncaknya untuk menggambarkan suasana kelahiran Yesus (yang belakangan terbukti tidak cocok dengan suasana sebenarnya). Karenanya, natalan adalah suatu syncretism: percampuran, yang lebih banyak unsur-unsur fisik (rekaan) dan kekafiran dari pada unsur sejarah.

Taubat
“Saya berani meramalkan, aqidah yang dibawa Muhammad akan diterima baik oleh Eropa di kemudian hari, sebagaimana sekarang telah dimulai,” kata George Bernard Shaw, dalam “The Genuine to Islam”. Singapore (Vol.I/No.8/1936). Dan ramalannya memang benar, berikut diantaranya.

“Berbareng dengan majunya zaman, saya meningingkan kedamaian dengan Sang maha Pencipta saya, dan ternyata baik gereja Romawi maupun Inggris tak ada yang bisa memberikan kepuasan kepada saya. Kristen, dalam teori dan praktek, mengajarkan para penganutnya supaya berdoa dan bersembahyang pada Tuhan pada hari Minggu, dan menerkam makhlukNya pada hari-jari selebihnya”. (Sir Charles Edward Archibald Watkin Hamilton alias Abdullah Archibald Hamilton, negarawan dan bangsawan Inggris terkenal).

“Saya seorang Doktor Ilmu kesehatan, berasal dari keluarga Prancis Katolik. Pekerjaan saya menyebabkan saya terpengaruh oleh corak kultur yang tidak banyak memberi kesempatan dalam bidang kerohanian. Tidak berarti saya tidak percaya akan adanya Tuhan. Hanya saja, dogma-dogma dan peribadatan Kristen, khususnya Katolik, tidak membangkitkan pengertian dalam jiwa saya akan adanya Tuhan… Saya tidak bisa menerima pengakuan pendeta Katolik yang mengatakan bahwa salah satu kekuasaan mereka adalah “mengampuni dosa manusia –sebagai wakul tuhan:”. Saya, secara mutlak tidak percaya pada dogma Katolik tentang jamuan malam ketuhanan (rite of communion) dan roti suci yang melambangkan jasa Yesus. Dogma ini menyerupai budaya primitif.” (Dr. Ali Selman Benoist, Perancis).

“Sudah sejak usia muda, saya kehilangan kepercayaan pada Kristen. Sebabnya banyak, dan yang terpenting adalah kalau saya bertanya pada tokoh-tokoh gereha maupun orang nasrani biasa, tentang ajaran gereja yang tidak jelas bagi saya, selalu saja jawabannya: “Nona tidak akan bisa menggali ajaran Gereja, tapi nona wajib mempercayainya!” Saya ingat waktu kecil jika melihat bayi yang baru lahir digambarkan oleh gereja sebagai “tertutup oleh kehitaman dosa”. Sekarang tidak ada lagi anggapan buruk ini dalam khayalan saya” (Mrs. Cecilia Mahmudah Cannoly, Australia).

HF Fellows dari Inggris menambahkan, “….kita berpendapat bahwa kepercayaan yang mengatakan Yesus memikul dosa manusia itu adalah suatu kepercayaan yang berputar balik dan tidak masuk akal. Kita tidak mengerti kalau kita manusia yang berbuat dosa tapi Yesus yang harus disiksa”.

“… Kristen, pertama-tama diterima anak-anak muda yang tak berdosa, masih bersih dan berfikiran sederhana… Akan tetapi segeralah mereka kecewa, setelah melihat tangan-tangan kapitalis Amerika dan Inggris di belakang kekristenan, dengan segala kepentingannya. Bangsa-bangsa Kristen mulai melepaskan diri dari kekristenan negerinya. Sekarang mereka mengekspor agama itu ke luar negeri untuk kepentingan kapitalisme mereka.” (Prof. Abdul-Ahad Dawud BD).

“Islam telah merasuk ke dalam jiwaku, layaknya cemerlang musim semi yang menghancurkan gulita musim dingin. Islam telah menghangatkan jiwa saya, dan telah menutupi badan saya dengan ajaran-ajarannya yang indah dan cemerlang. Alangkah jelas dan logisnya kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusanNya”. Nonsens dengan ajaran kepercayaan; Tuhan Bapak, Tuhan anak dan Ruh Kudus, yang telah merajai hati orang, tapi tidak masuk akal sehat.” (Devis Warrington Fry, Australia).

  1. nasron el muselima
    Februari 18, 2011 pukul 6:22 am

    tak ada agama yg benar2 monotheis dan tak ada agama yg benar2 polytheis.
    Tuhan itu Satu namun ia ada di mana-mana (??).

    • Februari 18, 2011 pukul 10:15 pm

      Benar sekali… Tuhan yang benar itu cuma SATU…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: