Beranda > Al Islam, Peristiwa > Membendung Trend Kejahatan Seksual

Membendung Trend Kejahatan Seksual

September 14, 2010 Tinggalkan komentar Go to comments

Kejahatan seksual saat sudah mencapai pada ujung klimaksnya. Bahkan, mungkin, zaman sekarang ini kejatahan seksual bisa dianggap sebagai sebuah trend. Sebagaimana yang banyak diungkap media massa, kejahatan seksual (sexual harassment) akhir-akhir ini cxenderung meningkat, baik kuantitas maupun kualitasnya. Secata kuantitatif kiranya sederhana untuk dipahami, yaitu akibat amburadulnya system social masyarakat yang mengatur kontak dan interaksi kaum pria dan wanita dengan segala problematikanya. Di satu pihak, stimulant-stimulan seksual semakin deras membombardir masyarakat melalui tayangan-tayangan publik, sementara saluran resmi pernikahan menjadi urusan yang sulit dan mahal, terutama bagi remaja atau kaum muda. Banyak kampanye yang menganjurkan kaum muda tidak boleh menikah dini karena alas an ekonomi semata. Factor inilah yang antara lain menyebabkan kejahatan seksual kian nge-trend.

Secara kualitas kejahatan seksual sudah tidak dapat ditoleran. Ia sudah melintasi batas-batas nasab (pertalian darah). Ayah “makan” anak, ibu “mencicipi” anak, paman “menjajal” keponakan dan sejenisnya. Kemudian kejahatan seksual juga sudah semakin tak pandang bulu pada batasan usia. Ada kakek mencabuli perawan ingusan, lelaki muda memperkosa gadis kencur, bahkan memperkosa nenek-nenek. Bahkan lebih sadis lagi kasus sodomi yang berlanjut pada pembunuhan korbannya seperti menjadi trend pada zaman sekarang ini.

Ah, dunia menjerit. Maka berdirilah kelompok-kelompok wanita yang mengatasnamakan kaummnya menuntut agar pelaku kejahatan seksual dihukum seberat-beratnya. Kalau perlu dihukum mati. Namun tampaknya daya upaya itu belum cukup memberikan hasil yang efektif.

Tentang Manusia
Ada cacat – dari sekian banyak kelemahan yang cukup fundamental dalam model kehidupan yang tengah dilakoni saat ini. Yakni, konsepsi atau pandangan tentang jati diri manusia. Disadari atau tidak, model pergaulan hidup manusia sehari-hari kini mengacu pada aharan Sigmund Freud. Menurut Freud, karakter potensi seksual (instink of race) manusia adalah sebagaimana kebutuhan jasmaniyah. Artinya, jika tidak disalurkan atau dipenuhi maka akan membawa kegelisahan dan kematian. Oleh karena itu, si bapak psikoanalis ini menganjurkan gaya hidup liberal, free-love dan free-sex. ‘Biarkanlah pemuda-pemudi bebas bagai burung di angkasa…’ imbau freud.

Banyak orang yang membebeki imbauan Freud ini, meskipun dengan embel-embel yang indah; demi jiwa muda yang adventurer, memperluas pergaulan dan wawasan, kepedulian social dan sebagainya. Barangkali mereka, para orang tua modern yang berpersepsi demikian, perlu tahu bahawa forum-forum seperti belajar bersama, studi klub, camping, pakansi liburan yang melibatkan pria dan wanita secara bersama-sama sangat potensial bagi terjadinya penyelewengan seksual. Istilahnya, ‘kecelakaan’ – meskipun dilakukan dengan sengaja dan terencana.

Apakah sebenarnya manusia itu? Manusia dikaruniai Allah SWT dengan perasaan (syu’ur) akal dan potensi kehidupan. Yang terakhir berupa kebutuhan jasmani dan naluri. Dinamika hidup manusia pada dasarnya merupakan manifestasi dari kedua potensi kehidupan ini. Kebutuhan jasmani menuntut manusia untuk makan, minum dan ereksi. Kebutuhan jasmani bersifat internal. Artinya, ia akan muncul menjadi dorongan tatkala kondisi tubuh memang sudah menuntut untuk itu. Karenanya kebutuhan jasmani tidak memerlukan rangsangan untuk bangkit atau muncul. Yang ‘mengatakan’ bahwa manusia lapar adalah perut manusia itu sendiri, bukan ayam goring. Apabila tuntutan jasmaniyah tidak terpenuhi maka – dalam jangka waktu tertentu – manusia akan menemui ajalnya.

Berbeda halnya dengan kebutuhan naluriyah. Ia bersifat eksternal, yaitu baru muncul menuntut pemenuhan atau pemuasan tatkala ada rangsangan di luar dirinya. Dan dari segi pemenuhannya, ia tidak akan sampai membawa kematian jika tidak terpenuhi. Paling-paling manusia akan gelisah bila potensi seksualnya tidak tersalurkan, rasanya belum pernah ada cerita seorang pendeta mati gara-gara tidak kawin. Inilah karakteristik potensi kehidupan manusia. Kesalahpahaman terhadapnya akan membawa dampak yang fatal bagi kehidupan manusia.

Kesalahan Sikap
Berdasarkan uraian di atas, dapat dianalisis kenapa kejahatan seksual cenderung menggila seperti sekarang ini. Pertama, rangsangan seksual semakin hebat didemonstrasikan – sengaja maupun tidak. Sudah menjadi rahasia umum bahwa eksploitasi seksual merupakan umpan bisnis yang andal. Sementara itu peluang terjadinya anarkisme seksual juga makin besar, misalnya dengan adanya gerakan emansipasi wanita yang kelewatan.

Seorang kakek yang tak mampu berjalan ke lokalisasi; atau pemuda yang masih malu mengunjungi kompleks hitam tersebut, akhirnya melampiaskan akumulasi hasrat seksualnya pada obyek-obyek terdekat. Apakah dia pembantu rumah tangga, anak tetangga atau bocah-bocah cilik yang sering bermain dan akrab dengannya. Direktur yang kecewa dengan istrinya, biasanya lantas berkencan dengan sang sekretaris.

Kultur masyarakat dan control sosial yang makin rendah kualitasnya sangat berpengaruh pada kehidupan rumah tangga. Kalau si ibu yang anaknya segudang saja sudah tidak malu berkeliaran ke tempat-tempat umum dengan mengenakan hot-pants, apa jadinya dengan anak-anaknya di rumah. Boleh jadi si anak gadis tak sungkan bercelana pendek di hadapan ayahnya; atau dihadapan saudara lelakinya, bahkan mungkin suka berkeliaran di kamarnya dengan pakaian seperti itu. Tidak heran kalau ada bujang cilik yang memperkosa keponakannya, akibat terlalu sering memergoki sengaja atau tidak orang tuanya yang tengah intim. Menganggap sepele hal-hal seperti ini sangat berbahaya. Sebab, dorongan seksual tidak mengenal nasab, dan pelampiasannya bisa saja dengan sembarang cara dan obyek – meskipun tidak sesuai dengan tujuan dijadikannya potensi seksual itu sendiri. Ada istilah onani (pemuasan seks secara swalayan), bestiality (hubungan seks dengan hewan), nechrofilia (hubungan seks dengan mayat), jomoseksual (sodomi) dan sebagainya, yang menunjuk pada pelampiasan seksual yang tidak wajar. Demikian juga incest (hubungan seks senasab), menjadi sesuatu yang tidak mustahil, bahkan makin mungkin.

Masyarakat Ideal
Sejak dulu Nabi Muhammad SAW sudah mengingatkan bahwa keluarga – isteri dan anak-anak – adalah ‘cobaan’. Mereka potensial menjadi ‘musuh dalam selimut’. Oleh karena itu beliau mengajarkan system pendidikan keluarga yang khas, diantaranya adalah bahwa kewajiban orang tua terhadap anak adalah memberi nama yang baik, mendidik dan membesarkannya serta mencarikan jodoh yang baik baginya.

Anak-anak harus dilatih sholat sejak usia dini, bahkn orang tua boleh memukulnya – sebagai pelajaran – bila di usia tujuh tahun si anak tidak mau diajak melakukan sholat. Kemudian, meskipun senasab, rasa malu dan harga diri tetap ditumbuhkan di tengah keluarga. Oleh karena itu, tata busana tetap memperhatikan batasan aurat yang boleh diperlihatkan, baik kepada keluarga maupun orang lain. Dan, sangat dianjurkan pernikahan bagi remaja, seperti yang tengah dikemukakan oleh Dr. Sarito Wirawan beberapa tahun silam. Itulah sebagian dari pendidikan keluarga yang diajarkan Rasulullah SAW.

Dalam masyarakat Islam, rangsangan-rangsangan seksual dilarang sama sekali. Media massa ‘kuning’ – yaitu yang menjadikan seks sebagai komoditinya, apalagi lokalisasi, dicegah dan dihilangkan. Busana luar rumah, baik laki-laki maupun wanita, diatur sesuai fungsinya sebagai penutup aurat, bukan model fashion semata yang menjadi stimulant seksual. Hubungan pria dan wanita dibatasi sekadar pada persoalan pengobatan, bisnis, dan pendidikan. Landasan pembentukan kepribadian yang kokoh di lingkungan keluarga seperti itu, selanjutnya akan menghasilkan manusia dan masyarakat yang hebat, apabila ditunjang oleh tiga pilar utama pelaksanaan hokum, yakni kekuasaan pemerintah, sosial control oleh masyarakat dan kesadaran individu (waskat) yang berlandaskan takwa. Begitulah semestinya masyarakat yang ideal.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: