Beranda > Al Islam, Mutiara Hati > RUGI YANG SESUNGGUHNYA

RUGI YANG SESUNGGUHNYA

Besar atau kecil perbuatan baik dan buruk yang dilakukan manusia pasti akan mendapatkan  balasannya, begitulah Allah menjelaskannya dalam al-Qur’an “Barang siapa yang melakukan kebaikan meskipun sebesar biji zarrahpun dia akan melihatnya dan barang siapa yang melakukan kejahatan meskipun sebesar biji zarrah dia akan melihatnya pula” (al-Zilzalah: 7-8)
Diantara kesalahan yang seringkali terjadi pada manusia dan kesalahan itu acapkali dianggap ringan, namun pada hakekatnya memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perbuatan yang lain adalah, sikap terbiasa menganggap remeh kesalahan-kesalahan kecil, orang terbiasa berdusta, melecehkan, menghina, ghibah, mengambil hak orang lain dan lain sebagainya. Sikap inilah yang kemudian dikomentari oleh Rasulullah Saw, sebagai sikap orang-orang yang paling merugi diakhirat.

Rasulullah Saw, bertanya kepada para sahabat “tahukah kalian apakah yang dimaksud dengan bangkrut (al-Mufallis) itu? Sahabat menjawab! Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki harta dan perhiasan, Rasulullah berkata “sesungguhnya orang yang bangkrut diantara umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala sholat, puasa, dan zakat mereka, disamping mereka juga membawa beban dosa dari perbuatan mencaci maki, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, menganiaya, maka saat itu mereka diberikan pahala dari kebaikan  yang mereka lakukan, setelah pahala kebaikan tersebut diterimanya, maka pahala kebaikan itu diambil untuk menghapus kejahatan orang yang dizolimi dan kesalahan mereka dibebankan kepadanya sehingga kemudian mereka dilemparkan keneraka” (HR. Tirmidzi)
Dari Hadis Rasulullah diatas ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik, pertama, Allah maha mengetahui semua perbuatan yang dilakukan manusia, baik ataupun buruk perbuatan itu, karena sekecil apapun perbuatan itu Allah pasti mengetahuinya. Kedua, bukti ketaatan hamba kepada Tuhannya dapat diekpresikan lewat usaha yang maksimal dalam meninggalkan perbuatan dosa sekecil apaun., ketiga, ketaatan dalam bentuk ibadah yang dilakukan diharapkan dapat memberikan cahaya bilkhusus pada diri pelaku dan kepada masyarakat secara umum, orang yang memahami bahwa semua ibadah yang telah diwajibkan selain memiliki tujuan ibadah secara individu juga dapat memiliki tujuan social, hamba yang memahami shalat sebagai sarana mencegah perbuatan mungkar tentu akan berdampak besar ketika seorang hamba berkumpul dan menyatu dengan komunitas masyarakat selain dirinya, saum dapat menghapus sifat tamak, dusta, perkataan keji dan sebagainya, zakat dapat membentuk pribadi hamba yang pengasih, penyayang, empati, sedangkan ibadah haji melahirkan pribadi sosial dan egaliter.
Marilah kita mualai belajar untuk menjadi manusia yang dapat bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat serta lingkungan, sesuai dengan sabda Rasulullah Saw,
Diriwayatkan oleh Jabir sesungguhnya RAsulullah Saw, bersabda “seorang mukmin itu adalah orang yang selalu berusaha berdamai dan mendamaikan dan bukan mukmin orang yang tidak berdamai dan mendamaikan dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain.” (Hadis riwayat al-Thabrani)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: