Beranda > Al Islam > Wanita Aktivis Liberal Jadi Imam Shalat Jum’at

Wanita Aktivis Liberal Jadi Imam Shalat Jum’at

Seorang penulis Kanada akan menjadi wanita pertama-yang lahir sebagai Muslim-yang memimpin sebuah shalat Jum’at (11/6) dengan jemaah campuran jenis kelamin di Inggris besok, dalam sebuah langkah yang sangat kontroversial yang akan mencoba untuk memicu perdebatan tentang peranan kepemimpinan perempuan dalam Islam.
Raheel Raza, seorang aktivis hak-hak asasi dan penulis yang tinggal di Toronto, telah diminta untuk memimpin Shalat dan menyampaikan kutbah pada shalat Jum’at di Oxford.
Dia telah diundang oleh Dr Taj Hargey, seorang yang  menggambarkan dirinya sebagai imam yang mendakwahkan sebuah pemahaman Islam ultra-liberal yang meliputi antara lain, bahwa laki-laki dan perempuan harus diizinkan untuk shalat bersama dalam satu shaf dan bahwa imam perempuan boleh memimpin jemaat campuran di dalam shalat.

Tiga dari empat sekolah utama Islam Sunni mengizinkan wanita untuk memimpin shalat dengan jemaat khusus wanita, tetapi mayoritas ahli hukum Islam menentang gagasan mereka bisa memimpin shalat jamaah campuran di luar rumah.
Raza, 60, adalah bagian dari sebuah kelompok kecil dari kelompok yang mengaku feminis Islam yang telah mencoba menentang pola pikir bahwa perempuan secara tradisional dikecualikan dari peran kepemimpinan dalam masjid. Mereka berpendapat bahwa tidak ada dimanapun di dalam Al Qur’an bahwa imam perempuan secara tegas dilarang.

Raza menerima ancaman pembunuhan setelah memimpin sebuah shalat jamaah campuran gender di Toronto lima tahun lalu.
“Ini adalah pengalaman yang sangat mendalam,” kata Raza kemarin dalam pembicaraan telepon dari rumahnya di Toronto. “Ini bukan tentang mengambil pekerjaan seorang imam. Ini mengingatkan tentang komunitas Muslim bahwa 50 persen dari penganutnya adalah perempuan yang sama dengan laki-laki. Wanita yang sama taatnya dalam mempraktekkan Islam yang layak untuk didengar.”
Penampilan Raza di Oxford mengulangi sesi Shalat serupa pada tahun 2008 yang dipimpin oleh Amina Wadud, seorang muallaf Amerika dan feminis Muslim. Tapi ini adalah pertama kalinya seorang perempuan yang lahir sebagai Muslim akan memimpin shalat campuran gender di Inggris.
Shalat yang dipimpin Wadud dihadiri oleh jamaah kecil kurang dari 40 orang yang dicela oleh para pengunjuk rasa dalam perjalanan mereka untuk shalat. Sebagian besar pemrotes adalah wanita Muslimah dengan jilbab penuh. Sementara itu, begitu Wadud dan kelompoknya berada di dalam ruang untuk shalat, merekapun masih kalah jumlah secara komprehensif oleh wartawan yang ingin meliput kegiatan tersebut.
Namun Dr Hargey, orang yang menimbulkan perpecahan dalam Islam Inggris, yang mengelola Pusat Pendidikan Muslim Oxford, mengatakan jemaatnya sejak itu telah tumbuh dan menarik pengikut baru.
“Untuk shalat Jumat kami sekarang menerima sekitar 100 orang” katanya. “Saya mengharapkan sekitar 200 orang untuk menghadiri shalat Jumat ini.”
Raza, yang akan terbang ke  Inggris pagi ini mengatakan, dia menyadari bahwa dia akan berkotbah untuk mengubah hari esok. “Tapi ini tentang membuka satu hati, satu pikiran pada satu waktu,” tambahnya.

@independent/ Voa-Islam.com

  1. Juni 11, 2010 pukul 6:18 am

    Astaqfirullah,,,semoga di indonesia feminis gender tdk berniat melakukan hal yg sama,,,

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: